Oleh: Indra J. Piliang (Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta)
Dengan anggaran sebesar 20 Milyar, malah akan lebih nantinya, Soetrisno Bachir membuat iklan politik di surat-surat kabar, radio dan televisi. Frase yang mulai populis itu berbunyi : “Hidup adalah perbuatan.” Iklan ini muncul dengan foto Soetrisno yang terlihat matang, dengan gurat yang jelas dan jenggot yang tumbuh, tapi rapi. Jelas, dalam iklan itu Soetrisno berbedak tipis, dengan fotografer kawakan. Di radio dan televisi, Soetrisno tampil bersama istrinya, dengan pesan-pesan tentang kebangkitan nasional.
Ada yang dengan sinis mengatakan bahwa iklan-iklan seperti itu tidak perlu dan tidak penting. Pendapat itu menurut hemat saya tentu tidak melihat realitas kemajuan di bidang teknologi informasi. Iklan, dalam realitas ini, telah menjadi bagian dari alat pengeras suara. Kalau Soekarno dan Soeharto secara mitologis dibentuk oleh beragam isu yang tidak terlacak kebenarannya, sementara raja-raja Mataram dikatakan beristrikan Nyi Loro Kidul, maka pada zaman sekarang mata dan telinga masyarakat langsung melihat tokoh-tokoh yang berada dibalik sebuah iklan.
Iklan menjadi mitos tersendiri dalam menaikkan atau menurunkan popularitas seseorang. Iklan yang baik akan membawa kepada dukungan, sementara iklan yang jelek justru akan memunculkan antipati. Ketika sepasang calon gubernur-wakil gubernur sebuah provinsi di luar Jawa tampil dalam iklan-iklan di televisi, terasa sekali iklan itu buruk. Betapa tidak, sosok sang tokoh tidak seganteng Dede Yusuf atau sekarismatis Nelson Mandela. Beberapa tokoh lain yang merasa dirinya tidak menarik, malah jarang menyebarkan poster dirinya, selain memperkuat image nama dan pengalamannya. Abdul Ghafur, misalnya, ketika maju jadi Calon Gubernur Maluku Utara tidak menyebarkan poster bergambar dirinya. Ketidak-hadirannya justru menjadi magnet tersendiri. Eksistensialis
Hidup adalah perbuatan. Iklan ini begitu terdengar pragmatis. Yang orang mau tahu, bagaimana Soetrisno menjalani hidup? Apa yang sudah ia perbuat? Dari yang banyak didengar, Soetrisno adalah seorang pengusaha asal Pekalongan. Pekalongan sendiri menghasilkan banyak kaum saudagar batik dan intelektual. Batik hanya perantara pertama, karena setelah menemukan celah yang tepat, jenis usaha lain bisa dibuka dan dimasuki. Konstruksi, media, perbankan, atau apapun. Para saudagar selalu memiliki jurus yang banyak, karena tidak terjebak dengan disiplin yang ketat sebagaimana ilmuwan atau kaum intelektual ketika bekerja.
Iklan itu terdengar tidak sloganistik. Juga, tidak mencoba berlindung dibalik wong cilik, masyarakat busung lapar ataupun kelompok petani miskin. Latar puisi Chairil Anwar menunjukkan kesunyian, ketimbang keriuhan. Chairil adalah penyair yang kesepian. Tetapi ia telah membawa mati filsafat eksistensialismenya ke dalam kuburannya. Nama lain bisa dijajar: Tan Malaka. Soetrisno tidak sedang melakukan proses aktualisasi diri dengan iklan dan dana yang dia miliki. Ia juga bukan orang yang berorientasi massa sebagai tameng politik. Saya tidak tahu, apa itu yang mau dikatakan oleh Soetrisno. Yang saya pahami, iklan itu dikomandoi oleh Rizal Malarangeng, Direktur Eksekutif Fox Indonesia. Sebagaimana bisa diikuti dari beragam wawancaranya, justru iklan “Hidup adalah Perbuatan” juga lebih mewakili sosok Rizal, ketimbang Soetrisno. Bagi yang sering bertemu Rizal akan segera paham bahwa Chairil adalah tokoh idolanya. Rizal sudah beberapa kali dioperasi. Sekalipun begitu, ia tetap perokok aktif dan pemakan makanan penuh kolesterol tinggi. Ia orang yang cerah memandang hidup dan bekerja sepanjang hari, sepanjang malam, dengan banyak posisi.
Justru dengan iklan itu Rizal berhasil melewati batas-batas defenisi tentang hidup dan perbuatan. Ketelitiannya menunjukkan bahwa sebuah puisi yang jarang diperdengarkan, sesosok pahlawan yang tidak lagi digandrungi, bisa menemukan makna baru ketika didorong dan diapungkan oleh seorang politikus. Apakah Soetrisno diuntungkan oleh iklan itu, atau Chairil diingat kembali, atau puisi-puisi lama dibuka orang, serta barangkali bangsa ini menjadi kian tercerdaskan oleh hempasan iklan-iklan lain yang buruk, tentu bisa dimaknai dengan kehadiran dan sosok iklan itu sendiri. Torehan Baru
Apa dengan iklan itu Soetrisno layak menjadi presiden? Ini tentu juga bidang diskusi yang lain. Menurut saya, di kalangan generasi sezamannya, Soetrisno telah menunjukkan kemampuannya dalam memimpin Partai Amanat Nasional. Ia bukan lagi sosok politikus konservatif yang terperangkap dengan ide-ide masa lalu, tetapi bukan juga penolaknya. Partai yang dipimpinnya diisi oleh politikus-politikus yang unggul di parlemen, sering menjadi referensi media dan bahkan mempunyai kemampuan menulis dengan baik. Soetrisno yang sempat ditolak oleh sebagian politikus lain ketika terpilih, telah menunjukkan bahwa politik itu kenyal, tidak keras. Ketakutan orang bahwa Soetrisno memimpin partai sama dengan caranya memimpin perusahaan tidak terbukti. Ia mendukung ide sistem proporsional terbuka murni tanpa nomor urut. Popularitas baginya penting. Popularitas bahkan bisa diartikan sebagai inti dari demokrasi itu sendiri. Bahwa mungkin banyak rakyat yang tidak mengerti arti iklan-iklannya, bagi Soetrisno adalah pilihan. Yang jelas, Soetrisno sangat menyadari bahwa PAN diisi oleh masyarakat kelas menengah, moderat dan sekaligus tidak mengambil jarak terhadap kehidupan masyarakat kota yang dianggap kelompok lain sebagai kehidupan kelompok borjuis.
Sekalipun banyak survei menunjukkan bahwa para petarung dalam pilpres nanti belum menyebut Soetrisno sebagai nama unggulan, tetap saja satu model kerja politik sudah ditorehkan. Model yang lebih profesional. Tanpa harus mengasosiasikan dengan pilprespun Soetrisno sudah menyebarkan pesan yang jelas dalam menata dan mengelola masa depan politik. Kalau Soekarno harus membaca ribuan buku dan menulis puluhan buku, seperti Di Bawah Bendera Revolusi, Soetrisno cukup dengan beberapa model iklan politik. Pabila Barrack Obama terlebih dahulu harus menjadi pekerja sosial sebelum menjadi senator, Soetrisno lebih memilih jalur pengusaha, lalu secara perlahan memasuki ranah politik. Cara Soetrisno tentu akan berhadapan dengan Soesilo Bambang Yudhoyono yang doyan berpidato panjang lebar, sekalipun tidak menarik dan membuat kepala-kepala daerah mengantuk. Sementara Jusuf Kalla mengeluarkan pernyataan-pernyataan ringan, jenaka, sembari menunjukkan dirinya yang tanpa baju ketika bersama-sama cucunya berenang bersama. Megawati lebih memilih mendekati penduduk dengan “berita penyesalan”, yakni kenapa masyarakat tidak memilihnya, sehingga keadaan menjadi buruk. Wiranto berlaku bak senior kepada juniornya, dengan terus menarik garis keras berupa iklan juga, atas kinerja Soesilo.
Apapun model pendekatan dan komunikasi politik yang ditawarkan, tetap saja masyarakat akan menjadi hakim terbaik. Untuk pilpres nanti, tidak boleh lagi kita melihat sisi kuantitas, hanya sebatas jumlah pendukung, tetapi juga sisi kualitas dari sebuah pesan. Pesan-pesan yang berkualitas akan memberikan kebaikan, menang atau kalah. Soetrisno telah memulainya, tinggal yang lain akan menempuh jalan yang sama atau berbeda..
sumber: indrapiliang.com



mukanya tidak cocok untuk jadi presiden.
hidup adalah perbuatan…….terserah lo mau berbuat baik atau hina, saya hanya tertarik dengan jenis bisnis barunya bukan materi iklannya, kalau masalah baik buruknya tanya ke orang periklanan dech.
saya cuku suka SB..
saya juga suka SBY..
ada beberapa alasan yang membuat sy berfikir seperti itu…
mereka bdua telegenic (cameraface)..
bentuk badan proporsional..
terlihat meyakinkan..
pintar bicara..
cukup agamis dgn gambaran a happy family behind them..
so??whatelse we need??
-orang yang termakan bujuk rayu iklan-
slogan hidup adalah perbuatan memang pas buat sb. biar si rizal itu tahu sebagian besar rakyat indonesia gak akan pernah lupa perbuatan busuknya sb dengan artis nia paramitha. termasuk perbuatan rizal yang mengejar ayam india waktu kunjungannnya ke india dengan rimbongan sby beberapa tahun lalu. tengik semua tuh. konsultan dan yang dikonsultani sama busuknya. bertobatlah bung, jangan bodoh2hi lagi rakyat indonesia…
Soetrisno Bachir jadi Bupati Pekalongan belum tentu kepilih…buang-buang duit dan bikin kaya si Rizal aje luh!!
themanya krg mendarat/krg bombastis dan tdk mengena ke masyarakat. aplg penampilan SB krg berkharisma sbg pemimpin. Cuma krn sang nyonya ikut sb bintang sdkit menolong tunjkkan keluarga yg harmonis wlu terlalu nekad krn pernah ada skandal besar sang bapak sblmnya yg geger krn berhadapan dag seleb….Sayang sekali dana yg keluar buat iklan yg jor2an itu tp krg mengena/ terlalu salut ngambang..bgitupun salut buat keberaniaan SB.mdh2an usahanya tdk sia2
Jelas sia-sia saja karena dia tak menunjukkan jejak rekam atas perbuatan apa yang dia telah perbuat untuk bangsa ini. PAN akhirnya menyadari bahwa politik di negeri ini butuh uang banyak, cuma sayangnya PAN terlalu gampang memilih Ketua Umum hanya karena beliaunya punya duit banyak.
Masih lebih bagus cara Tung Desem Waringin meski terkesan urakan. Karena dengan nyebar uang paling tidak ada bukti nyata dan dapat sorotan media gratis tanpa harus sewa konsultan politik.
Saran saya, sebaiknya uang SB dihabiskan untuk membangun sekolah-sekolah gratis buat rakyat atau membuat perkebunan buat para buruh tani untuk dapat bekerja. Meskipun skalanya tak sebesar proyek pemerintah, saya kira upaya ini lebih nyata ketimbang menghambur-hamburkan uang buat iklan di TV yang tak dirasakan rakyat secara langsung. Apalagi profil SB kurang marketable ketimbang SBY or Sutiyoso sekalipun!!!
buat letkol inf daryatmo n orang2 yg ga suka sb….anda itu harusnya lebih bisa memaknai ap itu arti “hidup adalah perbuatan”…karena sethau saya selain bombardir iklan yg gila2an seperti itu dia jg bener2 berbuat dengan beramal saat menjalani safari kebangsaan..jadi memang buat dia hidup ada;ah perbuatan karena sejak dulu yg saya tahu sb itu orang yg jg punya prinsip “hidup adalah beramal”…dah ga keitung berapa yg dia hambur2kan untuk beramal..coba anda kenali dia lebih dalam pasti anda sepakat dengan yg sy katakan tp kl cm sebatas tahu dr media itu blom ad ap2nya bung…hehehe…tp yg jelas orang kyak sb jelas lebih baik dari orang2 macam kalian itu…kekeke…coba kalau kalian yg punya duit banyak kayak sb belum tentu melakukan ap yg dia lakukan paling2 jg hambur2kan duit ke tempat prostitusi….hehehe…wakakaka…sory coy just kidding…pokoe auah…auah…auah..
Biarain dah….Soetrino lagi gambling
SB Bilang : ” Kalah Menang Bukan Soal ”
Kalo Kalah Cari Duit lagi yang banyak, Gak usah Iklan lagi.
Duitnya bagiiin aja ke seluruh rakyat miskin di Indonesia, pasti Menang he..he..he…
Saya orang PAN. Awalnya ada keraguan ketika SB mengumumkan adanya iklan sebulan penuh di semua media tentang Kebangkitan Nasional : Pemborosan!!. Setelah ada teman dekat yang pendukung PDIP memberi komentar bahwa SB cukup pantas maju ke bursa pilpres ketimbang pendahulunya: pak Amien Rais. Katanya pula:’ bicaranya meyakinkan. dst. Akhirnya keraguan itu sirna, yang tertinggal hanyalah kekaguman.
Pesan sebenarnya adalah: “PAN adalah partai NASIONALIS namun tetap mengusung moralitas” atau ajakan untuk berbuat. Berbuat baik tentunya.
Dalam kolom singkat ini saya, pendukung SB mengajak anda berbuat baik. MARI KITA BERHEMAT ENERGI. Saya sebel sama menteri yang nggak becus ngelola listrik sehingga Jakarta dan juga tempat – tempat lainnya secara bergiliran listriknya dihidup-matikan. BBM harganya dinaik-naikin, ngantri bensin berulang kali terjadi di berbagai tempat dst dst.
Apanya yang pantas dari SB maju dalam Pilpres? Saya kira teman Bung Noer yang dari PDIP hanya melihatnya dari sisi uangnya, jadi wajar dia bilang SB lebih bagus dari Amien Rais yang jebolan doktor politik dari The University of Chicago karena Amien nggak punya duit sebanyak SB. Sebaiknya SB fokus ke usaha batiknya yang lebih nyata menyerap tenaga kerja ketimbang beriklan dan mau jadi capres. Atau untuk test case, nyalon jadi Bupati Pekalongan dulu saja.
iye setuju ame kolonel, SB gak intelek, beda ame amien yg cerdas bgt…
tiap kata yg keluar dr mulut SB g ada yg dengerin twuh?
pake bikin iklan segala, sapa yg mo miliih..
pantesnya SB calon Lurah aja ndan!
(mimpinya kejauhan klo presiden)
Comment yang cukup beragam dan padat membuktikan, Virus “Hidup adalah Perbuatan” SB ,benar-2 menjangkiti masyarakat…semua segmen…Militer,sipil bahkan masyarakat.
Kalimat tak baku “Hidup adalah perbuatan” benar-2 jadi diskusi yang cukup hangat.
Sukses buat SB and Foxindonesia!!!
Tapi Bung Rizal trus nongol juga……..sekalian aja deh deklarasi “Capres Alternatif!!Kalah menang bukan soal!!Karier berdua masih panjang!!!Hidup SB & Rizal!!
Saya kira Rizal Malarangeng belum punya cukup bukti yang kuat bahwa dia layak jadi pemimpin nasional. Contoh kecil saja, ketika RM memandu acara Save Our Nation di Metro TV, saya sering mengamati bahwa sebagai host, RM terlalu dominan mewarnai acara dengan komentarnya yang jauh lebih banyak ketimbang orang-orang yang diwawancarainya.
Satu lagi, apakah bekal PhD Political Science dari Ohio (apalagi bukan dari Harvard or Northwestern, misalnya) cukup buat memimpin bangsa ini? Saya kira RM mesti berkaca kepada kakaknya yang sekarang jadi Jubir ketika terjun ke dunia politik. Kalau pun RM ingin meniru langkah Obama, apa yang telah dilakukan RM secara nyata selain iklan politik mirip SB dari PAN? Bangsa ini nggak cukup hanya dipimpin oleh orang yang gemar beriklan tanpa bukti nyata. Dengan menghambur-hamburkan uang untuk beriklan saja sudah terbukti bukan tanda yang baik.
Obama selain cerdas jebolan Harvard, dia mulai dari bawah dan ikut sistem. Mulai dari aktivis dalam membina orang miskin di salah satu bilangan di Chicago.
Saya bukan meragukan, tetapi biar pun katanya zaman demokrasi, orang juga harus didukung oleh kapabilitas dan track record yang nyata. Lha, seorang taruna Akmil saja harus melalui berbagai jenjang pendidikan pembekalan mulai dari Dikma Akmil untuk kemudian setelah Letda mengikuti Pasis Sussarcab, Selapa, Susdayon, Seskoad, Susdanrem, Sesko TNI (baik di dalam maupun di LN), Lemhanas dan diuji untuk memimpin mulai dari komandan peleton hingga jadi panglima berbintang. Nah, meskipun mungkin di jalur yang berbeda, RM mestinya punya track record apakah dia pernah berhasil memimpin mulai dari tingkat RT misalnya, atau Gubernur Sulsel? Dunia riset dan akademik sangat jauh berbeda dengan dunia nyata Bung…so for me, RM do not necessarily have my vote.
PAN itu partai pragmatis.biasanya faktor uang atau jabatan, menjadi hal utama dalam penentuan ketua mereka.Termasuk SB.pantes anak2 muhammadiyah bikin PMB.Tapi PMB di lapangan skrg juga pragmatis,yang penting ada uang
Ya, maka dari itulah Amien Rais yang sebetulnya sangat berbeda dunia dengan Soetrisno Bachir akhirnya harus menemui kenyataan bahwa teori-teori politik tidak serta merta kongruen dengan realitas politik di Indonesia yang butuh banyak duit. Kalau masih idealis, mestinya Amien menyerahkan tonggak kepemimpinan PAN kepada Syafi’i Ma’arif atau Dien Syamsuddin, misalnya (mereka sama-sama akademisi jebolan Amerika) bukan kepada Soetrisno Bachir. Tapi partai butuh duit, dan Soetrisno punya itu. Nah, makanya SB lah yang maju jadi Ketum PAN. Kalau PMB cuma sebatas cari makan saja.
seru juga membaca berbagai opini dari mas2 tentang para calon presiden 2009 . fyi aja neh… tgl 9/09/2009 rizal akan hadir sebagai narasumber/kandidat program The Candidate di Metro TV. Taping/rekaman akan dilakukan di grand studio metro tv pukul 16:00 wib. The Candidate adalah program talkshow yang tujuannya diperuntukkan bagi tokoh yang memiliki visi kepresidenan dan mereka concern terhadap konsep membangun bangsa yang lebih baik, dengan syarat mereka juga memiliki integritas dan kapasitas yang teruji. Program ini juga bertujuan menciptakan figur alternatif, untuk mematahkan stigma di masyarakat bahwa bangsa ini krisis kepemimpinan nasional.
metro tv mengundang masyarakat yang mau jadi audience di acara itu.
yang pro dan kontra yukkk… marri! debat langsung hehehe….
Hidup SB…….
PAN memang lahir dikalangan intelektul, maka dari itu kewajiban kader PAN untuk memberitakan PAN itu ke semua kalangan. Tidak Semua masyarakat paham dan mengerti dengan azaz perjuangan PAN.
Ingat 9 Amanat Ketua Umum PAN
Salam reformasi.
http://pan.padangpanjang.org
kol daryatmo… pola pikirnya kok ngacu militer, kayak jaman orba aja, udah usang… yang melalui jenjang begitu nyatanya banyak yang korup bahkan menjadikan negara ini seolah-olah miliknya sendiri dan seakan-akan hanya kelompoknya saja yang menjadi patriot dan pejuang, sehingga kalo mati maunya dikubur di kalibata (segera pertanyakan eksistensi taman makam pahlawan untuk apa dan siapa?).
statement tadi bukan untuk mendukung rizal atau sb, dua-duanya racun. ini mengindustrialisasikan demokrasi, dan bahayanya hanya orang-orang kaya yang seolah-olah punya porto folio, kapitalisme baru, liberalisasi bejingan-bajingan.
pemimpin itu tumbuh di tengah dinamika rakyat, ia senyata-nyatanya menunjukkan kepedulian dan kerja yang generik, bukan kosmetik. militer atau sipil yang mau jadi pemimpin harus punya catatan baik yang terpatri di memori masyarakat, atau minimal ia berpengaruh pada animo serta semangat bersama memajukan bangsa.
untuk jadi pemimpin maka ukur seberapa jauh keberadaan anda dalam kancah kehidupan kenegaraan dapat meningkatkan optimisme masyarakat terhadap perjalanan bangsa dan negara ini ke depan.
Hidup adalah perbuatan…jadi biarian saja..ndak usah banyak2 dikomentarin..toch SB lebih tau kemana arah dan tujuan hidupnya..jadi ndak usah ikut2an ..kita jalania aja hidup kita masing-masing azza…
Hidup adalah perbuatan…
taglinenya SB cukup menarik. Amat sangat sederhana tapi dalam maknanya.
Orang hidup memang harus berbuat, bekerja, berkarya bukan cuma bicara.
SB mungkin ingin mengingatkan kembali kepada seluruh masyarakat Indonesia yang akhir-akhir ini cuma omong doang.
Yuk!… mari kita berbuat, berkarya, bekerja untuk bangsa ini.
Mudah-mudahan “hidup adalah perbuatan” bukan cuma statement belaka buat SB tapi dapat diaplikasikasikan dengan perbuatan yang benar tentunya. Amiin…
menurut saya tidak ada yg lebih pantas memimpin bangsa ini kecuali Mas Tris,slogan “Hidup Adalah Perbuatan”nya sudah terbukti kongkrit pada masyarakat..
Soetrisno Bachir for President !!!
Biaya iklan 20 M, gaji presiden 100jt, 5 tahun terkumpul cuma 6 M. Lha ngembalikan 13 M dari mana????
marilah kita mulai dari diri sendiri berbuat baik sesuai ajaran agama masing2 dan jadikan diri anda manusia yang berguna buat orang lain. Semoga negeri ini akan menjadi sejahtera dan berkeadilan so jadikan diri anda manusia yang bermanfaat buat orang lain tanpa pamrih,…ocey boozss