Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘politik’ Category

barack_obama_11Meski namanya baru dikenal publik Amerika Serikat (AS) sekitar 2 tahun lalu, namun kehadirannya sudah mampu menandingi pesaing lainnya dalam kancah kandidat presiden AS. Barack Obama dikenal sebagai seorang sosok politisi yang senang berkomunikasi baik langsung maupun tidak dengan warga AS. Beliau seringkali menuangkan isi pikiran, pendapat serta ide-ide barunya yang dikemas dalam sebuah audiofile podcasting yang selalu bisa diakses oleh publik di seluruh dunia. Suaranya yang bersahaja dan ramah mengesankan seolah-olah beliau sedang berbicara langsung secara personal kepada para pendengarnya. Hal ini tentunya patut dijadikan sebuah keuntungan yang belum tentu dimiliki oleh setiap politisi dimanapun.

Baru-baru ini, Obama juga menggelar sebuah orasi, sebuah kegiatan yang sering beliau lakukan dan berorasi memang suatu kehandalan yang dimilikinya. Orasinya kali ini dilakukan di sebuah taman di Nevada pada waktu siang hari. Walaupun teriknya matahari terasa sungguh menyengat siang itu, namun tidak ada satu orang pun yang malah sibuk mencari tempat teduh di taman tersebut. Semua pengunjung taman tampak terkesima dengan orasi yang disampaikan Obama siang itu. Tidak ada satupun kandidat presiden AS lainnya yang mampu mengumpulkan begitu banyak orang yang bersemangat ingin mendengarkan orasi seorang politisi. Beberapa pengunjung yakin bahwa ”dialah orang yang ditunggu-tunggu Amerika”. Salah seorang pengunjung taman yang kebetulan juga seorang penggemar Obama, Michelle, pernah menuliskan pesan di situs web-nya Obama. Pesannya adalah bahwa ia berharap akan ada peraturan yang menyulitkan orang-orang yang berpenyakit mental dalam memperoleh/membeli senapan. Tidak lama kemudian, Obama membuat usulan yang sama persis. Michelle beranggapan bahwa usulan yang dibuatnyalah yang menginspirasi Obama. Namun orang lain beranggapan bahwa usulan Obama semata hanya karena kasus penembak yang membunuh 32 orang di Virginia beberapa waktu lalu.

Siapakah Obama sebenarnya? Ia mengaku dirinya adalah anak dari ayahnya yang berdarah Kenya yang kesehariannya menggembala kambing. Suatu masa, ayahnya mendapat beasiswa untuk belajar di AS, dimana ia akhirnya menikah dengan seorang wanita berkulit putih dari Kansas. Walaupun orang tuanya tidak kaya, tapi mereka berhasil menyekolahkan anaknya di Harvard.

Sekarang ini, mungkin kulit hitamnya bisa membantu posisinya dalam pemilu presiden nanti. Beberapa generasi lalu, hal ini justru akan merugikan dan bahkan fatal bagi dirinya. Namun kini, masyarakat kulit putih AS justru menilai hal ini sebagai tanda optimistik dari fron rasial. Banyak diantara mereka akan memilih presiden berkulit hitam dan menunjukkan pada dunia, dan diri mereka sendiri, bahwa kulit hitam bukanlah pecundang. Beberapa juga berpendapat bahwa, ”Saatnya telah tiba. Sejauh ini hanya ada pria kulit putih dari kalangan kelas atas.”

Keadaan sekarang ini tentunya merupakan sebuah kesempatan dan keuntungan yang harus diraih oleh Obama. Meski beberapa masyarakat kulit hitam masih meragukan posisi Obama “di kalangan kulit hitam”, karena nenek moyangnya tidak dibawa ke AS sebagai budak dan beliau juga tidak memegang peran dalam gerakan memperjuangkan hak-hak sipil. Menanggapi ini, Obama berkata bahwa dirinya telah banyak berjuang melawan isu rasial. Dalam otobiografinya, beliau ingat akan masa kecilnya dimana seorang kulit hitam telah disiksa dengan menggunakan racun kimia untuk memutihkan kulitnya. Beliau juga pernah menonjok seseorang yang menghinanya dan mengejeknya. Namun sebagai seorang yang berpikiran secara dewasa, dirinya memilih untuk menempuh jalan konsiliasi dibanding konflik.

Meski demikian, mampukah karisma Obama memenangkan dirinya dalam nominasi presiden nantinya? Menurut jajak pendapat, mungkin tidak. Obama tetap belum bisa menyamakan kedudukan dengan organisasinya Hillary Clinton. Obama masih tertinggal sekitar 10 poin di jajak pendapat nasional. Namun, Obama berhasil menggalang dana lebih besar daripada Clinton pada kwartal pertama tahun ini. Jajak pendapat lainnya mengatakan bahwa Obama memiliki kesempatan yang lebih baik dibanding Clinton dalam mengalahkan kandidat papan atas dari Partai Republik, seperti Rudy Giuliani dan John McCain. Jelas, Obama tetap harus dianggap sebagai kandidat yang berpotensi.

Posisinya mengenai perang Irak sangat jelas. Sedikit berbeda dari lawan utamanya, sejak awal, Obama jelas mengatakan tidak setuju dengan perang Irak. Berbicara mengenai kebijakan luar negeri, dirinya bersikap ambisius dan idealistik. Secara gamblang beliau berkata bahwa posisi sebagai pemimpin bagi dunia bebas ini terbuka lebar dan dia ingin menempati posisi tersebut. Obama ingin bekerja dengan Rusia untuk mengamankan bahan-bahan nuklir, pada saat bersamaan mendorong demokrasi dan transparansi di sana. Beliau juga ingin memperkuat NATO, membangun aliansi baru di Asia, menghentikan genosida di Darfur, memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah, dan membantu negara-negara miskin membangun ekonomi pasar yang berfungsi. Obama tidak berbicara banyak mengenai ekonomi. Ia hanya ingin mengalokasikan dana yang lebih besar untuk sekolah, subsidi kesehatan, dan kepentingan veteran.

Sumber:

forum-politisi.org

The Economist

http://www.barackobama.com/

Iklan

Read Full Post »

ROMA, SELASA – Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menekankan bahwa negara Israel akan musnah. Setibanya di Roma, Ahmadinejad menerangkan Israel akan musnah dengan atau tanpa keterlibatan Iran.

Kritik keras anti-Israel kembali disampaikan Mahmoud Ahmadinejad dalam sebuah konferensi pers di tengah berlangsungnya konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas krisis pangan dunia. Sementara Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni menghendaki masyarakat internasional agar tetap menekan Iran dan membuka opsi aksi militer untuk mencegah Teheran mengembangkan persenjataan nuklir.

(lebih…)

Read Full Post »

(JAKARTA) – Mereka kaya-raya, berambisi jadi presiden, dan mulai saling hantam. Kesejahteraan rakyat dijadikan ‘amunisi’. Tapi tak gampang memikat keluarga prajurit yang umumnya masih hidup miskin.

Meski belum diumumkan, puluhan miliar rupiah telah mereka habiskan untuk beriklan. Dan, masih puluhan, mungkin bahkan sampai trilunan rupiah, akan mereka habiskan untuk memenangi Pemilu 2009.

(lebih…)

Read Full Post »

JAKARTA, SABTU-Niat mantan Menteri Penerangan di era Presiden Soeharto, Harmoko, untuk kembali ke gelanggang politik sepertinya sulit direalisasikan. Pasalnya, Partai Kerakyatan Nasional (PKN) yang diusung mantan Ketua Umum Golkar itu tidak lolos verifikasi administrasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

(lebih…)

Read Full Post »

NGANJUK – Ratusan poster dan selebaran bergambar salah satu calon gubernur yang dituding anak komunis tersebar Nganjuk, Jawa Timur. Kemunculan poster misterius itu tidak pelak mengejutkan umat Muslim yang sedang melaksanakan salat Jumat karena beredar di depan masjid Agung Nganjuk.

Ratusan poster bergambar cagub Soekarwo itu tiba-tiba tertempel di sejumlah tembok alun-alun Nganjuk, Jalan Letjen Supriadi. Keberadaanya baru diketahui saat ratusan umat Muslim keluar dari lingkungan masjid Agung yang berada tepat di depan alun-alun.

(lebih…)

Read Full Post »

SURABAYA, KAMIS- Ketua Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir, Kamis (29/5) sekitar pukul 20.00 dilarikan ke Rumah Sakit Surabaya International setelah tumbang ketika akan membuat siaran interaktif di stasiun televisi lokal.

(lebih…)

Read Full Post »

Oleh: Indra J. Piliang (Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta)

Jakarta, Bagai panggung kesenian, para aktor dalam demokrasi terkini di Indonesia diisi oleh beragam karakter. Ada yang naik panggung, banyak yang turun. Era para pejabat, jenderal dan aktivis telah mendekati titik akhir. Para pengganti yang muncul berasal dari kalangan pengusaha dan artis. Tentu mereka pernah mengalami kehidupan susah sebagai anak-anak petani atau pedagang.

Keberhasilan Rano Karno sebagai wakil bupati Kabupaten Tangerang dan Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat membuat masyarakat berpikir: inilah era para artis dalam panggung politik dan pemerintahan. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa ini hanya fenomena lokal, belum tentu menjadi fenomena nasional. Dari rata-rata kepala daerah dan wakilnya, masih sedikit yang berprofesi sebagai artis yang berhasil terpilih. Marisa Haque gagal jadi wakil gubernur Banten, begitu pula Haji Komar sebagai bupati di Indramayu. Kegagalan itu menunjukkan bahwa popularitas keartisan seseorang belum bisa sepenuhnya menyebabkan logika awam memilihnya. Seandainya Doyok maju di Sidoarjo, tanah kelahirannya, juga belum tentu mampu memenangkan hati warga. Logika pulik tidak bisa dipaksa untuk mengeluarkan seseorang dari ruang kaca, lantas menunjuknya sebagai pemimpin. Terdapat banyak usaha lain untuk mewujudkan itu.

Sehingga, dengan sendirinya, kita perlu memilah-milah dunia artis yang bisa mendapatkan tempat di ranah politik dan pemerintahan. Dede Yusuf dan Rano Karno dikenal memainkan sosok pemuda yang riil. Dede tampil dalam sejumlah film lama yang bercerita tentang anak-anak muda zamannya. Ia terkenal dengan Jendela Rumah Kita di TVRI dan menjadi ikon obat sakit kepala. Begitupun Rano yang lebih realistik dengan peran sebagai si Doel. Peran-peran itu terasa dekat dalam keseharian masyarakat. Yang lebih penting lagi, sosok keduanya tidak kontroversial. Mereka jarang masuk ke dunia infotainment untuk isu-isu murahan, misalnya dalam masalah keluarga. Kalaupun masuk, sifatnya lebih kepada aksi-aksi sosial. Seorang Marisa barangkali ditolak lebih karena sikapnya yang arogan, lalu belakangan menonjolkan sosok intelektualitasnya sebagai kandidat doktor. Haji Komar barangkali lebih dilihat masyarakat sebagai penghibur, bukan artis yang memiliki karakter.

Popularitas Politik bukan lagi sekadar kemampuan menjalankan pemerintahan, melainkan telah merambah kepada kehandalan dalam memberikan harapan bagi perbaikan. Tema-tema perubahan kian digandrungi. Kalau seorang sosok pimpinan terlihat begitu kaku, birokratis, lamban dan tidak enak dilihat, maka benteng penghalang sedang disusun di depannya untuk memasuki kantor-kantor pemerintahan. Muka yang semakin berkeriput juga menjadi faktor penghindar dari publik. Kegairahan dan keuletan justru menjadi maghnet yang menawan.

Mengapa hal itu terjadi? Perubahan dari sisi demografis. Para pemilih memasuki usia muda. Kalangan muda ini tidak lagi memiliki idealita atas kehidupan bernegara. Mereka bukan korban dari indoktrinasi zaman Orde Baru tentang nilai-nilai P-4. Generasi yang tertatih mengeja Pancasila, apalagi butir-butirnya. Generasi yang dihidupi oleh kecepatan kemajuan teknologi informasi. Artis dan selebritis mengisi hampir semua ruang teknologi informasi itu. Sebagai duta olahraga, duta departemen tertentu, duta gosok gigi, sebagai master of ceremony kegiatan politik, atau hanya sebagai pengisi acara-acara kepartaian. Artis masih dianggap sebagai ornamen penting dalam kegiatan politik dan pemerintahan. Tetapi, seiring dengan kesadaran politik yang makin meninggi, semakin banyak pula artis memutuskan terjun ke dunia politik praktis.

Dengan sistem politik yang menyamakan suara seorang tokoh dengan masyarakat biasa, kehadiran artis dengan popularitas tinggi tentu menarik minat publik. Langkah awal tidak diperlukan, yakni pengenalan oleh masyarakat pemilih. Justru kalangan intelektual yang kian kesulitan, karena beredar di kalangan terbatas, terutama dalam tumpukan buku. Pemangku gelar akademik tertinggi belum tentu terpilih dalam pilkada dan pilpres. Mengapa? Karena yang dipilih bukan seorang rektor. Rulling Elite

Perpindahan posisi artis yang semula hanya pengisi dunia hiburan ke ranah kekuasaan, telah menempatkan artis sebagai rulling elite baru. Bahkan sumber kepemimpinan dari kalangan militer dan birokrat lama juga mereka kalahkan. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana kualitas kepemimpinan mereka. Apakah mereka mampu dengan cepat mempelajari seluk-beluk pemerintahan dan dengan segera mengambil kebijakan berdasarkan lautan data, analisa dan rekomendasi di meja mereka? Atau mereka lantas sibuk menjadi aktor-aktor teatrikal yang enak dilihat ketika di atas pentas, tetapi ketika pulang justru terbayang uang beli karcis yang melayang? Selama ini, di hadapan kamera, artis sangat tergantung kepada sutradara. Maka ketika berpindah ke ruang kekuasaan, sutradara itu dimainkan oleh partai politik. Partai politik yang sudah mengambil keuntungan maksimal dari kalangan artis ini selayaknya mempersiapkan diri dengan baik sebagai aktor di belakang panggung. Perhatian harus benar-benar diberikan kepada kemampuan artis yang bersangkutan dalam menjalankan roda pemerintahan. Menurut saya, menjadi aneh ketika Soetrisno Bachir dalam perayaan kemenangan pasangan Hade lantas memberikan pekerjaan rumah kepada Dede Yusuf untuk memenangkan PAN di Jabar. Yang selayaknya dilakukan adalah PAN menyiapkan diri untuk mengerjakan apapun yang dibutuhkan Dede Yusuf.

Gaya selebritis dalam menjalankan kekuasaan justru akan mengundang petaka. Lihat saja bagaimana Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono yang dikatakan Megawati hanya mampu menebar pesona. Masyarakat membutuhkan para pesolek di dunia maya atau layar lebar, tetapi segara meninggalkannya ketika pesolek itu muncul dalam sosok pemimpin. Inilah paradoks yang dimunculkan antara realitas politik dengan hiper realitas kalangan selebritis. Artis yang menjadi kepala daerah atau presiden harus bersiap mencetak box office baru lewat prestasi monumental. Kalau indeks pembangunan manusia di Jabar lebih baik pada tahun ketiga, sebagaimana janji pasangan Hade, maka Dede Yusuf berhak dicatat dalam box office itu. Namun, apabila pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan di Jabar makin merosot dibandingkan dengan awal mereka memerintah, julukan sebagai artis gagal pantas diberikan. Begitu juga bagi Rano Karno, apabila mampu menghijaukan Kabupaten Tangerang, sebagaimana janji kepeduliannya kepada aspek lingkungan hidup, maka ia berhak menanggalkan julukan sebagai si Doel Anak Sekolahan, digantikan dengan si Doel Jadi Pemimpin.

Non Formal Para pemimpin formal sekarang terlalu sulit memberikan senyum kepada masyarakat. Dede dan Rano tentu menyadari itu. Siapapun anggota masyarakat yang datang, tentu akan berpikir untuk segera bersalaman dan foto bareng dengan keduanya. Kalaupun ada usulan, keluhan atau kritikan, itu menjadi tempelan saja. Nilai-nilai baru dalam komunikasi inilah yang tidak diperoleh ketika yang memimpin adalah seorang jenderal atau pejabat karier.

Kehadiran artis di panggung kekuasaan adalah pemecah batu kebekuan birokrasi. Pemerintahan harus membuka diri bagi masyarakat. Kalau tidak, sebagaimana film-film yang tidak laku di pasaran, pemerintahan akan ditinggalkan karena “penonton kecewa”. Sehingga situasi paradoks bisa dimainkan sekaligus, yakni sebagai pemimpin formal melakoni pola kepemimpinan non formal. Ketertutupan administrasi pemerintahan selama ini harus dibuka dengan penanaman nilai-nilai keartisan itu. Bagaimanapun, pemerintahan adalah ornamen yang bisa menggerakkan masyarakat, apabila mampu memberikan tontonan yang menggugah perasaan. Pemerintahan juga mampu memerangkap masyarakat terjebak dalam kecengengan, apabila yang diurai hanya air-mata kekuasaan dan gincu merah pemimpin-pemimpinnya.

Tidak boleh lagi ada jarak yang begitu jauh antara rakyat jelata dengan pemimpin formal di Jawa Barat, sebagaimana juga di Tangerang. Pola relasi sosial yang bergaya menak, dengan pelakon dari kelompok bangsawan lama di ranah Sunda, selayaknya mula dirontokkan dengan kehadiran generasi kepemimpinan baru yang lebih fleksibel dan dinamis. Selebrasi kalangan selebritis di panggung kepemimpinan formal adalah bagaimana menjadikan kekuasaan itu tidak lagi terlihat jauh. Dalam konteks ini selebritis akan bersuara banyak, ketimbang ia hadir sebagai ornamen kekuasaan dan boneka kalangan lain di belakang layar. Kalau tidak, masyarakat dengan mudah bisa mencampakkan para pemimpin barunya ini, teronggok di pinggiran tanpa penonton, ketika menjadikan kekuasaan itu hanya sebagai ajang memupuk kedigdayaan personal.

sumber: indrapiliang.com

Read Full Post »

Older Posts »