Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘blue energy’

NGANJUK – Penemu blue energy Djoko Suprapto, (48 ) bikin berita lagi. Belum jelas apa yang diperbuatnya selama menghilang dua minggu, kini warga Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, itu mengaku jiwanya sedang terancam. Karena itulah, keluarga Djoko berencana mengadu dan meminta perlindungan Komnas HAM.

Saat dikonfirmasi, keluarga Djoko Suprapto tidak bisa menjelaskan secara spesifik apa yang melatarbelakangi keluarga penemu BBM murah yang bersumber dari air itu harus meminta perlindungan kepada Komnas HAM.

“Tapi benar, kami sudah rembugan dengan keluarga untuk melapor ke Komnas HAM. Kami takut diculik,” ujar Winda Mira, istri Djoko, kepada Surya melalui ponselnya.

Menurut Winda, sebenarnya keinginan mengadu ke Komnas HAM itu sudah muncul sejak suaminya selama dua minggu lalu menghilang. “Saat itu, begitu bapak dinyatakan hilang, keluarga langsung mengadakan rapat. Kami saat itu sudah sepakat minta bantuan Komnas HAM karena menyangkut keselamatan jiwa bapak,” kata Winda.

Saat didesak untuk menjelaskan soal ancaman yang dimaksud, Winda kembali menghentikan pembicaraan di sambungan telepon. Beberapa detik kemudian terdengar suara pelan. Namun Winda tak mau mengurai lebih jauh mengenai bentuk ancaman sebelum akhirnya menutup pembicaraan di telepon.

Sebagaimana diberitakan Surya, Djoko Suprapto ditemukan kembali dalam kedaan dirawat di RSUD Madiun. Djoko menghilang 13 hari tanpa mau menjelaskan alasan kepergiannya selama dua minggu itu. Dia baru kembali Jumat (23/5) dini hari.

Seharusnya pada malam 20 Mei, Djoko mendapat kesempatan menghadiri puncak Hari Kebangkitan Nasional di Senayan atas undangan Presiden SBY, namun dia tidak datang.

Di Jakarta, Komisioner KomnasHAM, Johny Nelson Simanjutak mengakui bahwa Djoko Suprapto saat ini memang dalam tekanan mental setelah dibawa orang tak dikenal.

Johny mengaku sudah tiga kali berhubungan via telepon dengan Djoko. Dikatakan, Djoko pertama kali menghubungi dirinya pada Kamis (22/5) lalu, sehari sebelum pulang ke rumahnya di Nganjuk. Djoko Soeprapto, kata dia, mengabarkan bahwa dirinya saat itu tengah berada di rumah sakit di Madiun. “Saat pertama menghubungi saya dia merasa jantungnya sakit, merasa tertekan, makanya di RS.

Keluarganya lalu dikontak, lalu ketemulah mereka di Madiun, lalu dibawa ke Nganjuk. Jadi, bapak itu sekarang mengalami pukulan mental karena tidak mengerti maksud dan tujuan dari si pembawa itu apa,” ujar Johny saat ditemui di Kantor KomnasHAM, Jakarta, Senin (26/5).

Johny menyebut, dalam pembicaraan itu Djoko tidak terlalu berbicara panjang lebar. Djoko juga tidak menjelaskan siapa orang yang membawanya. Johny menjelaskan bahwa Djoko khawatir pembicaraan mereka disadap. “Pak Djoko belum cerita siapa orang yang membawanya. Dia hanya mengatakan itu akan dijelaskan kalau kami bertemu,” katanya.

Meski begitu, Johny memastikan formula luar biasa terkait air menjadi BBM murah, belum diberikan kepada siapapun. “Setelah saya tanya apakah formulanya sudah diberikan ke orang yang membawanya, Djoko menjawab belum,” lanjut Johny.

Johny mengatakan, Komnas HAM sebelumnya menduga bahwa jika Djoko benar-benar hilang, akan terlalu banyak kepentingan bisnis yang bisa bermain. Setidaknya, ada tiga kepentingan yang bisa bermain. “Kemarin pikiran kita, yang menculik dia, pertama kalau tidak birokrasi, mafia intelektual, perusahaan. Ketiganya berlomba untuk segera mendapatkan formula itu. Bayangkan saja, kalau perusaahaan dapat tinggal bayar, mafia tinggal jual, semua ingin memperebutkan formula itu,” sambung Johny.

Tak hanya Djoko. Menurut Johny, istri Djoko juga dalam kondisi ketakutan. “Istrinya juga setelah memberitahu ke saya. Waktu saya telepon, dia juga tidak angkat sebelum saya SMS. Kemudian dia ganti nomor HP, lalu tiba-tiba mengatakan ‘maaf kami tidak perlu, kami menunda untuk melakukan pelaporan ke KomnasHAM’,” cerita Johny menirukan perkataan istri Djoko saat itu.

Johny mengatakan, sekarang ini Djoko dan keluarga sudah ada dalam perlindungan Komnas HAM. Komisi pimpinan Ifdhal Kasim itu sudah membuat pernyataan bahwa Djoko sudah dalam perlindungan Komnas HAM. Komnas dalam waktu dekat juga akan ke Nganjuk menemui Djoko.

“Artinya, apapun mengenai dia, harus dijelaskan kepada kita. Siapa yang mau bertemu dengan dia, lalu kita tidak tahu, ya tidak boleh. Kita memfasilitasi karena Pak SBY ingin bertemu Pak Djoko,” sambung Johny.

Untuk kepentingan apa bertemu dengan SBY? Johny menjelaskan bahwa dulu sudah diniatkan untuk ada launching temuan baru mengatasi krisis energi. “Jadi kalau ini (BBM murah) ditemukan, ini sesuatu yang spektakuler, karena belum ditemukan di negara lain,” lanjutnya. k2/had

sumber: kompas.com, 27 Mei 2008

Read Full Post »

NGANJUK -Djoko Suprapto (48 ) warga Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, belakangan terkenal dengan kabar penemuan mutakhirnya yang mampu memproses air menjadi bahan bakar. Namun penemuan ini masih misterius karena sang penemu belum mau terbuka. Siapa sebenarnya Djoko Suprapto?

Sebuah rumah megah berdiri menghadap sungai. Bangunan rumah di atas lahan hampir satu hektare itu selalu mencuri perhatian warga.

Belum ada pintu gerbang dan pagar. Namun di ujung depan rumah terdapat pos keamanan lengkap dengan penjaga yang setiap saat menghentikan siapa saja yang hendak mendekat ke rumah itu. Persis setelah pos ini berdiri megah pula rumah joglo. Lantainya dibuat agak lebih tinggi.

Setidaknya lima sampai delapan orang duduk di joglo yang lantainya dilapisi keramik. Sebagian dari mereka ada yang berbadan tegap dan tinggi besar.

Menempel dengan bangunanjoglo, berdiri sebuah rumah dengan arsitektur terkini. Itulah rumah milik Djoko Suprapto, sang penemu BBM murah. Di dinding depannya tertulis Padepokan Jodhipati. Tampak di ruang tengah rumah dilengkapi perabotan dan sofa luks. Di ruang ini juga terdapat seperangkat peralatan wayang. Mulai wayang kulit sampai alat gamelan.

Secara keseluruhan, bangunan rumah yang memanjang itu tampak luks. Mulai halaman sampai pagar belakang, panjangnya mencapai 100 meter. Agak sedikit ke belakang tampak bangunan kantor kecil yang di belakangnya dibangun tower pemancar radio. Di kantor itu bertulis mencolok: Jodhipati 106,1 FM.

Di belakang rumah ada tiga mobil diparkir. Xenia silver AG 1426VB diparkir bersama Karimun B 2362 DU. Tampak juga Daihatsu Terrios hitam L 1526 DD. Di ujung rumah terdapat L 300. Kendaraan berapa pun tetap muat karena luasnya tanah.

Tentu kondisi ini mengundang decak kagum warga. Apalagi sekarang Djoko menjadi berita karena penemuan BBM murah. Bagaimana bisa pria asli Gemolong, Sragen, Jateng, ini tiba-tiba menemukan BBM yang diambilkan dari bahan dasar air itu.

Bahkan Kepala Desa Ngadiboyo, Wanuji, kepada Surya mengaku tidak percaya dengan penemuan itu. Apalagi kesan pertama yang muncul melihat Djoko adalah sosok yang terlalu cepat mendapatkan kekayaan. “Hampir semua serba tiba-tiba. Warga tidak ada yang tahu, Pak Djoko itu kerja apa ya hingga kekayaannya seperti itu. Yang diketahui hanya bahwa dia bekerja di Jakarta,” kata Wanuji, Minggu (25/5).

Menurut Ketua RT 04/RW12, Sunaryo, Djoko mulai menempati rumah megah itu baru sekitar enam bulan lalu. Namun Djoko menginjakkan kaki di Desa Ngadiboyo sekitar tahun 1980, dia memperistri janda beranak dua, Damirah yang saat ini berubah nama menjadi Winda Mira, warga Dusun Bangsri.

Seperti halnya Wanuji, Sunaryo juga heran mengetahui bahwa sepulang dari Jakarta, Djoko langsung membeli tanah milik mantan seroang camat bernama Rajuli seluas 1.200 meter persegi. Tanah itu dibeli seharga Rp 235 juta yang saat ini ditempati Padepokan Jodhipati.

Belum lagi sekarang terus membeli tanah-tanah di sekitarnya. “Tapi saya dengar, Pak Djoko memang mampu membuat trafo. Mungkin dari hasil itu,” kata Sunaryo menerka.

Dari trafo inilah sebenarnya warga awalnya mulai mendapat rasionalisasi kondisi Djoko hingga bergelimang harta. Sebab menurut cerita Kades Wanuji, dirinya selalu mendengar bahwa harga trafo hasil temuannya bisa ratusan juta rupiah. “Ada yang sampai dibeli perusahaan-perusahaan besar,” tambah Wanuji.

Warga juga tambah heran karena Djoko kerap nanggap wayang. Menurut Wanuji, pernah satu bulan tiga kali mendatangkan dalang terkenal dari Solo. Bahkan, Djoko juga mendatangkan dalang kondang Ki Anom Suroto. “Itu berkali-kali. Padahal sekali tampil, tarif Anom Suroto minimal Rp 75 juta,” tambah Wanuji. faiq nuraini

Sumber: Kompas.com, 26 Mei 2008

Read Full Post »