Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Partai Politik’

Oleh Jeffrie Geovanie *
Kompetisi dalam dunia politik pada hakikatnya merupakan kompetisi pencitraan, baik secara institusional maupun individual. Contoh, mengapa masyarakat Jawa Barat memilih pasangan Hade (Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf)? Jawaban utamanya, Hade berhasil membangun citra diri sebagai pemimpin baru yang mampu memberikan harapan di tengah kejenuhan dan kebosanan masyarakat terhadap para pemimpin lama yang hanya bisa berjanji tapi kurang pandai menepati.

Mengapa pasangan SBY-JK dipilih rakyat Indonesia pada 2004 silam? Karena pasangan ini berhasil membangun citra positif di mata publik.

Karena itu, rasanya sangat wajar jika sekarang ini sejumlah partai politik, baik secara kelembagaan maupun individual (tokoh-tokohnya), sudah berpacu mengupayakan pencitraan positif di mata khalayak. Maklum, kalau pemilihan umum (Pemilu) 2009 dijadwalkan April, waktu menuju pemilu dari sekarang kurang dari satu tahun.

Sudah waktunya bagi partai-partai untuk memasuki arena kompetisi yang sesungguhnya. Begitu pun bagi tokoh-tokohnya, terutama yang berambisi menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

Di antara tokoh-tokoh politik yang sudah berupaya membangun pencitraan itu, misalnya, mantan Panglima TNI, Jenderal (pur) Wiranto yang pada pemilu presiden 2004 silam kalah di babak penyisihan. Wiranto termasuk tokoh yang paling getol mengiklankan diri, baik di media cetak maupun elektronik. Tema utamanya, kegetiran masyarakat, terutama mereka yang miskin dan menganggur disebabkan sistem sosial politik yang kurang memihak.

Pesannya jelas, di samping menyindir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dianggap gagal menanggulangi kemiskinan dan pengangguran, Wiranto ingin membangun citra diri yang peduli terhadap nasib mereka.

Mengintip di belakang Wiranto, ada Prabowo Subianto, mantan komandan Jenderal Kopassus yang paling populer. Berbeda dengan Wiranto yang mendirikan partai politik baru sebagai alat perjuangan, Prabowo lebih memanfaatkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), organisasi profesi yang belum lama ditekuninya. Melalui HKTI, Prabowo ingin membangun citra diri sebagai tokoh yang sangat peduli kepada nasib rakyat, terutama petani.

Selain dua jenderal di atas, ada tokoh sipil yang karismanya tidak kalah dengan jenderal. Dia adalah Sultan Hamengku Buwono X. Sultan tidak mendirikan partai baru. Dia tetap jadi bagian dari Partai Golkar.

Langkah-langkah Sultan paling hati-hati. Tidak gegap gempita. Perlahan tapi relatif terukur. Langkah-langkah Sultan dalam membangun citra mengingatkan kita pada langkah-langkah SBY pada 2003. Yang membedakan SBY dengan Sultan, yang pertama mendirikan partai politik, sedangkan yang kedua tetap bertahan sebagai aktivis partai lama yang sudah mapan secara politik.

Tokoh sipil lain, ada Megawati Soekarnoputri. Megawati menjadi fenomena menarik karena ketua umum PDIP yang dulu terkenal jarang berkomentar -apalagi mengkritik- ini sekarang justru lebih banyak mengkritik pemerintah. Ungkapan-ungkapannya menarik seperti “tebar kerja bukan tebar pesona” dan “bagaikan penari poco-poco”.

Kedua ungkapan itu menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bukti bahwa Megawati masih mampu menyedot perhatian publik.

Tokoh sipil yang juga menarik adalah Soetrisno Bachir (SB) yang memasang iklan dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Dengan memasang ide iklan dari sajak Chairil Anwar, cukup unik dan inspiratif. Barangkali, aspek inilah yang membedakan, antara dirinya dan iklan politik tokoh-tokoh lain.

Cara SB beriklan, yang bertumpu pada upaya membangun fondasi citra diri sebagai negarawan, agak mirip dengan cara yang ditempuh Hillary Clinton dan Barack Obama, dua kandidat presiden AS dari Partai Demokrat yang hingga saat ini relatif sama kuat.

Selain banyak penantang, masih ada incumbent, pasangan SBY-JK yang kian serius melakukan langkah-langkah politik yang mengarah pada upaya mempertahankan jabatan hingga periode mendatang. Keduanya terlihat fokus pada upaya-upaya mengatasi problem yang dihadapi bangsa saat ini.

Akan sangat baik asalkan tidak terpancing oleh kritik-kritik yang dilontarkan lawan politik, terus konsisten dan bekerja keras menjalankan amanat dan kepercayaan rakyat yang telah dimandatkan kepada mereka.

Jika rakyat merasakan adanya perbaikan kehidupan, keamanan, dan kedamaian, tidak mustahil SBY-JK akan dipilih kembali untuk periode berikutnya.

Siapakah di antara tokoh-tokoh di atas yang akan dipercaya rakyat untuk menjadi presiden dan wakil presiden periode 2009-2014. Apakah Wiranto, Prabowo, Sultan HB X, Megawati, Soetrisno Bachir, atau tetap SBY-JK? Lihat tahun depan. Rakyatlah yang akan menentukan.
*. Jeffrie Geovanie, direktur eksekutif The Indonesia Institute, di Jakarta.

Sumber: Jawapos 6 Mei 2008

Iklan

Read Full Post »

Seperti Barack Obama, Fox Garap Hulu sampai Hilir. Iklan politik tokoh nasional di media massa semakin menjamur. Salah satu yang gencar mempromosikan diri adalah Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir. Siapakah orang-orang di balik bisnis pencitraan tersebut?

CANDRA K. – A. BOKHIN, Jakarta

KALAU Anda nonton di bioskop jaringan Studio 21 sekarang, jangan heran jika tiba-tiba muncul wajah Soetrisno Bachir. Ketua umum PAN yang namanya kerap disingkat SB itu terjun ke dunia film? Bukan. Untuk menggencarkan kampanye pencitraan diri, kini tim SB tidak cukup hanya menggunakan televisi dan media cetak, tapi juga media-media populer yang lain.

Seperti yang terjadi pada hari libur Waisak di Studio 21 Hollywood, Kartika Candra, Jakarta Pusat, Selasa (20/5) pukul 13.00 lalu. Slide iklan tentang SB diputar usai kampanye anti penyebaran HIV/AIDS. Sebuah gambar bendera Merah Putih tampak berkibar, diselingi narasi dan petikan puisi penyair Chairil Anwar.

“Sekali berarti sudah itu mati,” bunyi penggalan puisi terkenal penyair Angkatan 45 yang juga muncul dalam iklan-iklan warna satu halaman penuh di berbagai media cetak. Berikutnya muncul rangkaian potongan gambar yang ternyata iklan sosialisasi figur Soetrisno Bachir, seperti yang sering tayang di televisi.

“Apa bedanya dengan nonton televisi?” ujar salah seorang penonton dengan kesal, yang siang itu harus membayar tiket tanda masuk Rp 30 ribu.

Meski memunculkan polemik, ide memasang iklan politik di bioskop itu cukup brilian. Target pasarnya jelas: anak muda belasan sampai 30-an tahun. Merekalah pemilih potensial dalam pemilu. Sebagian besar pemilih pemula adalah swing voter yang belum menentukan memilih partai apa atau tokoh siapa dalam pemilu.

Setelah ditelisik, otak di balik penggarapan iklan politik tersebut adalah Fox Indonesia di bawah pimpinan Rizal Mallarangeng. Ditemui Jawa Pos di kantornya, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rizal mengaku telah menandatangani kontrak dengan Soetrisno Bachir hingga April 2009. “Fox Indonesia merupakan lembaga strategic and political consulting profesional pertama di Indonesia,” klaim pria yang juga direktur Freedom Institute tersebut.

Profesionalitas dalam pengertian Rizal adalah bisnis. Bisnis kampanye modern dan konsultan murni. Lembaga yang dipimpinannya akan melayani keperluan klien mulai hulu hingga hilir. Mulai pencitraan, iklan, pemberitaan di media, kampanye, sampai strategi pemenangan suksesi.

“Kita coba, bikin lembaga yang benar-benar profesional. Seperti lawyer (pengacara), you bayar, kami yang susun konsep kampanyenya,” tambah alumnus Universitas Gadjah Mada tersebut.

Dalam mengerjakan bisnisnya, Fox Indonesia menggunakan sistem outsourcing. Beberapa elemen dalam proses produksi diserahkan kepada profesional. Misalnya, pemenangan pilkada diperlukan elemen survei. Untuk tugas itu, Fox Indonesia menyerahkan kepada LSI (Lembaga Survei Indonesia) milik Saiful Mudjani. “Saya tinggal kontrol metodenya,” katanya.

Begitu juga dalam pembuatan iklan di TV, doktor lulusan Ohio State University, Amerika, itu melibatkan sutradara muda Ipang Wahid. Untuk fotografi, Fox Indonesia mempercayakan kepada fotografer kawakan Darwis Triadi. Bahkan, menurut Rizal, dalam waktu dekat, sutradara beken Garin Nugroho akan bergabung dengan lembaganya.

Staf Ahli Menko Kesra tersebut menyatakan, puncak demokrasi adalah sebuah festival tempat berbagai komunitas masyarakat bisa bergabung dan menikmati kebebasan menuangkan kreasi. “Termasuk para seniman,” tambahnya.

Untuk menunjang pekerjaannya, dibentuk beberapa divisi. Salah satu yang paling krusial adalah divisi think tank. Merekalah yang menggagas ide-ide dalam membangun citra tokoh dalam iklan. Termasuk pemilihan puisi Chairil Anwar dan ide memasang iklan di Studio 21. “Ada empat doktor dan dua master yang mendukung divisi-divisi kami,” kata bapak dua anak itu.

Meski profesional, Rizal menegaskan, pihaknya tetap selektif dalam memilih calon klien. Menurut dia, timnya baru bisa bekerja ketika ada kecocokan dengan calon klien. “Wiranto sama Prabowo minta saya jadi think tank-nya. Tapi, dengan hormat saya menolak. Mereka sudah gagal memimpin di masa lalu, lebih baik pensiun saja,” tegasnya.

Rizal yang juga direktur Freedom Institute itu menambahkan, kecocokan dengan klien bisa diukur dalam penyatuan visi sebelum tanda tangan kontrak.

Dalam kaitannya dengan Soetrisno Bachir, kontrak ditandatangani dengan target meningkatkan popularitas figur ketua umum dan partai (PAN). “Dalam klausul kontraknya disebutkan, membantu tokoh dan partai,” ungkapnya.

Untuk mengetahui perkembangan hasil pencitraan, pertengahan minggu lalu tim Fox Indonesia dan Soetrisno Bachir melakukan safari ke beberapa kabupaten di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogjakarta, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. “Hasilnya mencengangkan. Dengan memasang iklan tiga minggu saja, 2/3 audiens yang kita temui sudah mengenal Soetrisno Bachir,” katanya.

Rizal tak membantah jasa konsultan politiknya tidak murah. Bahkan, dia mengklaim Fox Indonesia mematok harga paling mahal di Indonesia. Selain iklan TV, Fox memasang iklan Soetrisno di koran-koran utama, media luar ruang, pemasangan baliho di seluruh Indonesia, dan bioskop. Belum termasuk program road show ke berbagai daerah di Indonesia.

Untuk iklan televisi, misalnya, dalam sehari rata-rata 180 kali tayang. Iklan tersebut ditayangkan di jam-jam utama (prime time) dengan program yang memiliki rating tinggi. Belum lagi iklan di radio dan TV lokal. Jadi, wajar jika anggarannya sangat besar.

“Demokrasi itu mahal Bung. Untuk pemilihan internal saja, Obama (Barack Obama, capres Partai Demokrat di AS) hingga saat ini sudah menghabiskan Rp 2 triliun. Kalau di Indonesia, ya kami masih termahal,” katanya.

Sumber: Jawa Pos, 25 Mei 2008

Read Full Post »