Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘pemilu 2009’

(JAKARTA) – Mereka kaya-raya, berambisi jadi presiden, dan mulai saling hantam. Kesejahteraan rakyat dijadikan ‘amunisi’. Tapi tak gampang memikat keluarga prajurit yang umumnya masih hidup miskin.

Meski belum diumumkan, puluhan miliar rupiah telah mereka habiskan untuk beriklan. Dan, masih puluhan, mungkin bahkan sampai trilunan rupiah, akan mereka habiskan untuk memenangi Pemilu 2009.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Oleh Jeffrie Geovanie *
Kompetisi dalam dunia politik pada hakikatnya merupakan kompetisi pencitraan, baik secara institusional maupun individual. Contoh, mengapa masyarakat Jawa Barat memilih pasangan Hade (Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf)? Jawaban utamanya, Hade berhasil membangun citra diri sebagai pemimpin baru yang mampu memberikan harapan di tengah kejenuhan dan kebosanan masyarakat terhadap para pemimpin lama yang hanya bisa berjanji tapi kurang pandai menepati.

Mengapa pasangan SBY-JK dipilih rakyat Indonesia pada 2004 silam? Karena pasangan ini berhasil membangun citra positif di mata publik.

Karena itu, rasanya sangat wajar jika sekarang ini sejumlah partai politik, baik secara kelembagaan maupun individual (tokoh-tokohnya), sudah berpacu mengupayakan pencitraan positif di mata khalayak. Maklum, kalau pemilihan umum (Pemilu) 2009 dijadwalkan April, waktu menuju pemilu dari sekarang kurang dari satu tahun.

Sudah waktunya bagi partai-partai untuk memasuki arena kompetisi yang sesungguhnya. Begitu pun bagi tokoh-tokohnya, terutama yang berambisi menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

Di antara tokoh-tokoh politik yang sudah berupaya membangun pencitraan itu, misalnya, mantan Panglima TNI, Jenderal (pur) Wiranto yang pada pemilu presiden 2004 silam kalah di babak penyisihan. Wiranto termasuk tokoh yang paling getol mengiklankan diri, baik di media cetak maupun elektronik. Tema utamanya, kegetiran masyarakat, terutama mereka yang miskin dan menganggur disebabkan sistem sosial politik yang kurang memihak.

Pesannya jelas, di samping menyindir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dianggap gagal menanggulangi kemiskinan dan pengangguran, Wiranto ingin membangun citra diri yang peduli terhadap nasib mereka.

Mengintip di belakang Wiranto, ada Prabowo Subianto, mantan komandan Jenderal Kopassus yang paling populer. Berbeda dengan Wiranto yang mendirikan partai politik baru sebagai alat perjuangan, Prabowo lebih memanfaatkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), organisasi profesi yang belum lama ditekuninya. Melalui HKTI, Prabowo ingin membangun citra diri sebagai tokoh yang sangat peduli kepada nasib rakyat, terutama petani.

Selain dua jenderal di atas, ada tokoh sipil yang karismanya tidak kalah dengan jenderal. Dia adalah Sultan Hamengku Buwono X. Sultan tidak mendirikan partai baru. Dia tetap jadi bagian dari Partai Golkar.

Langkah-langkah Sultan paling hati-hati. Tidak gegap gempita. Perlahan tapi relatif terukur. Langkah-langkah Sultan dalam membangun citra mengingatkan kita pada langkah-langkah SBY pada 2003. Yang membedakan SBY dengan Sultan, yang pertama mendirikan partai politik, sedangkan yang kedua tetap bertahan sebagai aktivis partai lama yang sudah mapan secara politik.

Tokoh sipil lain, ada Megawati Soekarnoputri. Megawati menjadi fenomena menarik karena ketua umum PDIP yang dulu terkenal jarang berkomentar -apalagi mengkritik- ini sekarang justru lebih banyak mengkritik pemerintah. Ungkapan-ungkapannya menarik seperti “tebar kerja bukan tebar pesona” dan “bagaikan penari poco-poco”.

Kedua ungkapan itu menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bukti bahwa Megawati masih mampu menyedot perhatian publik.

Tokoh sipil yang juga menarik adalah Soetrisno Bachir (SB) yang memasang iklan dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Dengan memasang ide iklan dari sajak Chairil Anwar, cukup unik dan inspiratif. Barangkali, aspek inilah yang membedakan, antara dirinya dan iklan politik tokoh-tokoh lain.

Cara SB beriklan, yang bertumpu pada upaya membangun fondasi citra diri sebagai negarawan, agak mirip dengan cara yang ditempuh Hillary Clinton dan Barack Obama, dua kandidat presiden AS dari Partai Demokrat yang hingga saat ini relatif sama kuat.

Selain banyak penantang, masih ada incumbent, pasangan SBY-JK yang kian serius melakukan langkah-langkah politik yang mengarah pada upaya mempertahankan jabatan hingga periode mendatang. Keduanya terlihat fokus pada upaya-upaya mengatasi problem yang dihadapi bangsa saat ini.

Akan sangat baik asalkan tidak terpancing oleh kritik-kritik yang dilontarkan lawan politik, terus konsisten dan bekerja keras menjalankan amanat dan kepercayaan rakyat yang telah dimandatkan kepada mereka.

Jika rakyat merasakan adanya perbaikan kehidupan, keamanan, dan kedamaian, tidak mustahil SBY-JK akan dipilih kembali untuk periode berikutnya.

Siapakah di antara tokoh-tokoh di atas yang akan dipercaya rakyat untuk menjadi presiden dan wakil presiden periode 2009-2014. Apakah Wiranto, Prabowo, Sultan HB X, Megawati, Soetrisno Bachir, atau tetap SBY-JK? Lihat tahun depan. Rakyatlah yang akan menentukan.
*. Jeffrie Geovanie, direktur eksekutif The Indonesia Institute, di Jakarta.

Sumber: Jawapos 6 Mei 2008

Read Full Post »