Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘politik’

(JAKARTA) – Mereka kaya-raya, berambisi jadi presiden, dan mulai saling hantam. Kesejahteraan rakyat dijadikan ‘amunisi’. Tapi tak gampang memikat keluarga prajurit yang umumnya masih hidup miskin.

Meski belum diumumkan, puluhan miliar rupiah telah mereka habiskan untuk beriklan. Dan, masih puluhan, mungkin bahkan sampai trilunan rupiah, akan mereka habiskan untuk memenangi Pemilu 2009.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

JAKARTA, SABTU-Niat mantan Menteri Penerangan di era Presiden Soeharto, Harmoko, untuk kembali ke gelanggang politik sepertinya sulit direalisasikan. Pasalnya, Partai Kerakyatan Nasional (PKN) yang diusung mantan Ketua Umum Golkar itu tidak lolos verifikasi administrasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

(lebih…)

Read Full Post »

NGANJUK – Ratusan poster dan selebaran bergambar salah satu calon gubernur yang dituding anak komunis tersebar Nganjuk, Jawa Timur. Kemunculan poster misterius itu tidak pelak mengejutkan umat Muslim yang sedang melaksanakan salat Jumat karena beredar di depan masjid Agung Nganjuk.

Ratusan poster bergambar cagub Soekarwo itu tiba-tiba tertempel di sejumlah tembok alun-alun Nganjuk, Jalan Letjen Supriadi. Keberadaanya baru diketahui saat ratusan umat Muslim keluar dari lingkungan masjid Agung yang berada tepat di depan alun-alun.

(lebih…)

Read Full Post »

SURABAYA, KAMIS- Ketua Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir, Kamis (29/5) sekitar pukul 20.00 dilarikan ke Rumah Sakit Surabaya International setelah tumbang ketika akan membuat siaran interaktif di stasiun televisi lokal.

(lebih…)

Read Full Post »

Oleh: Indra J. Piliang (Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta)

Jakarta, Bagai panggung kesenian, para aktor dalam demokrasi terkini di Indonesia diisi oleh beragam karakter. Ada yang naik panggung, banyak yang turun. Era para pejabat, jenderal dan aktivis telah mendekati titik akhir. Para pengganti yang muncul berasal dari kalangan pengusaha dan artis. Tentu mereka pernah mengalami kehidupan susah sebagai anak-anak petani atau pedagang.

Keberhasilan Rano Karno sebagai wakil bupati Kabupaten Tangerang dan Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat membuat masyarakat berpikir: inilah era para artis dalam panggung politik dan pemerintahan. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa ini hanya fenomena lokal, belum tentu menjadi fenomena nasional. Dari rata-rata kepala daerah dan wakilnya, masih sedikit yang berprofesi sebagai artis yang berhasil terpilih. Marisa Haque gagal jadi wakil gubernur Banten, begitu pula Haji Komar sebagai bupati di Indramayu. Kegagalan itu menunjukkan bahwa popularitas keartisan seseorang belum bisa sepenuhnya menyebabkan logika awam memilihnya. Seandainya Doyok maju di Sidoarjo, tanah kelahirannya, juga belum tentu mampu memenangkan hati warga. Logika pulik tidak bisa dipaksa untuk mengeluarkan seseorang dari ruang kaca, lantas menunjuknya sebagai pemimpin. Terdapat banyak usaha lain untuk mewujudkan itu.

Sehingga, dengan sendirinya, kita perlu memilah-milah dunia artis yang bisa mendapatkan tempat di ranah politik dan pemerintahan. Dede Yusuf dan Rano Karno dikenal memainkan sosok pemuda yang riil. Dede tampil dalam sejumlah film lama yang bercerita tentang anak-anak muda zamannya. Ia terkenal dengan Jendela Rumah Kita di TVRI dan menjadi ikon obat sakit kepala. Begitupun Rano yang lebih realistik dengan peran sebagai si Doel. Peran-peran itu terasa dekat dalam keseharian masyarakat. Yang lebih penting lagi, sosok keduanya tidak kontroversial. Mereka jarang masuk ke dunia infotainment untuk isu-isu murahan, misalnya dalam masalah keluarga. Kalaupun masuk, sifatnya lebih kepada aksi-aksi sosial. Seorang Marisa barangkali ditolak lebih karena sikapnya yang arogan, lalu belakangan menonjolkan sosok intelektualitasnya sebagai kandidat doktor. Haji Komar barangkali lebih dilihat masyarakat sebagai penghibur, bukan artis yang memiliki karakter.

Popularitas Politik bukan lagi sekadar kemampuan menjalankan pemerintahan, melainkan telah merambah kepada kehandalan dalam memberikan harapan bagi perbaikan. Tema-tema perubahan kian digandrungi. Kalau seorang sosok pimpinan terlihat begitu kaku, birokratis, lamban dan tidak enak dilihat, maka benteng penghalang sedang disusun di depannya untuk memasuki kantor-kantor pemerintahan. Muka yang semakin berkeriput juga menjadi faktor penghindar dari publik. Kegairahan dan keuletan justru menjadi maghnet yang menawan.

Mengapa hal itu terjadi? Perubahan dari sisi demografis. Para pemilih memasuki usia muda. Kalangan muda ini tidak lagi memiliki idealita atas kehidupan bernegara. Mereka bukan korban dari indoktrinasi zaman Orde Baru tentang nilai-nilai P-4. Generasi yang tertatih mengeja Pancasila, apalagi butir-butirnya. Generasi yang dihidupi oleh kecepatan kemajuan teknologi informasi. Artis dan selebritis mengisi hampir semua ruang teknologi informasi itu. Sebagai duta olahraga, duta departemen tertentu, duta gosok gigi, sebagai master of ceremony kegiatan politik, atau hanya sebagai pengisi acara-acara kepartaian. Artis masih dianggap sebagai ornamen penting dalam kegiatan politik dan pemerintahan. Tetapi, seiring dengan kesadaran politik yang makin meninggi, semakin banyak pula artis memutuskan terjun ke dunia politik praktis.

Dengan sistem politik yang menyamakan suara seorang tokoh dengan masyarakat biasa, kehadiran artis dengan popularitas tinggi tentu menarik minat publik. Langkah awal tidak diperlukan, yakni pengenalan oleh masyarakat pemilih. Justru kalangan intelektual yang kian kesulitan, karena beredar di kalangan terbatas, terutama dalam tumpukan buku. Pemangku gelar akademik tertinggi belum tentu terpilih dalam pilkada dan pilpres. Mengapa? Karena yang dipilih bukan seorang rektor. Rulling Elite

Perpindahan posisi artis yang semula hanya pengisi dunia hiburan ke ranah kekuasaan, telah menempatkan artis sebagai rulling elite baru. Bahkan sumber kepemimpinan dari kalangan militer dan birokrat lama juga mereka kalahkan. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana kualitas kepemimpinan mereka. Apakah mereka mampu dengan cepat mempelajari seluk-beluk pemerintahan dan dengan segera mengambil kebijakan berdasarkan lautan data, analisa dan rekomendasi di meja mereka? Atau mereka lantas sibuk menjadi aktor-aktor teatrikal yang enak dilihat ketika di atas pentas, tetapi ketika pulang justru terbayang uang beli karcis yang melayang? Selama ini, di hadapan kamera, artis sangat tergantung kepada sutradara. Maka ketika berpindah ke ruang kekuasaan, sutradara itu dimainkan oleh partai politik. Partai politik yang sudah mengambil keuntungan maksimal dari kalangan artis ini selayaknya mempersiapkan diri dengan baik sebagai aktor di belakang panggung. Perhatian harus benar-benar diberikan kepada kemampuan artis yang bersangkutan dalam menjalankan roda pemerintahan. Menurut saya, menjadi aneh ketika Soetrisno Bachir dalam perayaan kemenangan pasangan Hade lantas memberikan pekerjaan rumah kepada Dede Yusuf untuk memenangkan PAN di Jabar. Yang selayaknya dilakukan adalah PAN menyiapkan diri untuk mengerjakan apapun yang dibutuhkan Dede Yusuf.

Gaya selebritis dalam menjalankan kekuasaan justru akan mengundang petaka. Lihat saja bagaimana Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono yang dikatakan Megawati hanya mampu menebar pesona. Masyarakat membutuhkan para pesolek di dunia maya atau layar lebar, tetapi segara meninggalkannya ketika pesolek itu muncul dalam sosok pemimpin. Inilah paradoks yang dimunculkan antara realitas politik dengan hiper realitas kalangan selebritis. Artis yang menjadi kepala daerah atau presiden harus bersiap mencetak box office baru lewat prestasi monumental. Kalau indeks pembangunan manusia di Jabar lebih baik pada tahun ketiga, sebagaimana janji pasangan Hade, maka Dede Yusuf berhak dicatat dalam box office itu. Namun, apabila pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan di Jabar makin merosot dibandingkan dengan awal mereka memerintah, julukan sebagai artis gagal pantas diberikan. Begitu juga bagi Rano Karno, apabila mampu menghijaukan Kabupaten Tangerang, sebagaimana janji kepeduliannya kepada aspek lingkungan hidup, maka ia berhak menanggalkan julukan sebagai si Doel Anak Sekolahan, digantikan dengan si Doel Jadi Pemimpin.

Non Formal Para pemimpin formal sekarang terlalu sulit memberikan senyum kepada masyarakat. Dede dan Rano tentu menyadari itu. Siapapun anggota masyarakat yang datang, tentu akan berpikir untuk segera bersalaman dan foto bareng dengan keduanya. Kalaupun ada usulan, keluhan atau kritikan, itu menjadi tempelan saja. Nilai-nilai baru dalam komunikasi inilah yang tidak diperoleh ketika yang memimpin adalah seorang jenderal atau pejabat karier.

Kehadiran artis di panggung kekuasaan adalah pemecah batu kebekuan birokrasi. Pemerintahan harus membuka diri bagi masyarakat. Kalau tidak, sebagaimana film-film yang tidak laku di pasaran, pemerintahan akan ditinggalkan karena “penonton kecewa”. Sehingga situasi paradoks bisa dimainkan sekaligus, yakni sebagai pemimpin formal melakoni pola kepemimpinan non formal. Ketertutupan administrasi pemerintahan selama ini harus dibuka dengan penanaman nilai-nilai keartisan itu. Bagaimanapun, pemerintahan adalah ornamen yang bisa menggerakkan masyarakat, apabila mampu memberikan tontonan yang menggugah perasaan. Pemerintahan juga mampu memerangkap masyarakat terjebak dalam kecengengan, apabila yang diurai hanya air-mata kekuasaan dan gincu merah pemimpin-pemimpinnya.

Tidak boleh lagi ada jarak yang begitu jauh antara rakyat jelata dengan pemimpin formal di Jawa Barat, sebagaimana juga di Tangerang. Pola relasi sosial yang bergaya menak, dengan pelakon dari kelompok bangsawan lama di ranah Sunda, selayaknya mula dirontokkan dengan kehadiran generasi kepemimpinan baru yang lebih fleksibel dan dinamis. Selebrasi kalangan selebritis di panggung kepemimpinan formal adalah bagaimana menjadikan kekuasaan itu tidak lagi terlihat jauh. Dalam konteks ini selebritis akan bersuara banyak, ketimbang ia hadir sebagai ornamen kekuasaan dan boneka kalangan lain di belakang layar. Kalau tidak, masyarakat dengan mudah bisa mencampakkan para pemimpin barunya ini, teronggok di pinggiran tanpa penonton, ketika menjadikan kekuasaan itu hanya sebagai ajang memupuk kedigdayaan personal.

sumber: indrapiliang.com

Read Full Post »

Takut Pusing, Minta Kader Tak Hitung Nilai Kontrak
Tak mudah membuat deal antara pimpinan sebuah partai politik dan lembaga profesional seperti Fox Indonesia. Apalagi, itu menyangkut jumlah uang yang sangat besar.

CANDRA K-A. BOKHIN, Jakarta

SEBELUM dirilis, berbagai gagasan Fox memasarkan Soetrisno Bachir (SB) dipresentasikan di jajaran pimpinan Partai Amanat Nasional (PAN). Rizal Mallarangeng, pimpinan Fox, saat itu mengajukan konsep 3M: money, media, dan momentum.

Meski akhirnya banyak yang mendukung, saat itu tak sedikit kader PAN yang mencibir. Ada pula yang meragukan kredibilitas Rizal Mallarangeng karena dia pernah menjadi tim sukses Megawati -yang akhirnya gagal meraih kemenangan- pada Pilpres 2004.

Terlebih, kakak kandung Rizal, Andi Mallarangeng, saat ini menjadi juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejumlah kader PAN khawatir, Rizal hanya mengejar “proyek” tanpa ada kesungguhan membesarkan PAN dan menaikkan rating SB di mata publik.

Rizal tak menampik anggapan miring tersebut. Dia mengaku banyak terlibat dalam menyukseskan orang menjadi presiden. Termasuk kakaknya yang “dititipkan” ke SBY. “Tapi, saya bekerja sesuai etik dan tanggung jawab profesional. Saya membantu Mas Tris (Soetrisno Bachir, Red) hingga April 2009. Selama itu seluruh pikiran dan energi saya hanya untuk Mas Tris dan PAN,” katanya.

Selesai kontrak, kelanjutan semua kerja sama PAN dengan Fox Indonesia diserahkan kepada SB -panggilan akrab Soetrisno Bachir. “Setelah April 2009 Mas Tris mau apa, saya siap menunggu,” katanya.

April 2009 menjadi tonggak penting kontrak politik antara SB dan Fox. Sebab, saat itu bisa diketahui berapa raihan kursi PAN di DPR. Dengan demikian, hasil kinerja konsep Fox itu bisa dinilai.

Besarnya dana yang digelontorkan untuk program pencitraan diri -konon, mencapai Rp 300 miliar- yang menjadi pembicaraan para kader itu direspons Soetrisno. Dia meminta jajaran internal partainya tetap solid. Dia memastikan, dedikasi, loyalitas, dan pengorbanannya terhadap PAN tidak berkurang hanya karena menggelontorkan sejumlah uang untuk Fox. “Dana untuk partai malah akan bertambah terus,” ucapnya.

Mengenai biaya iklan dan program Fox, Soetrisno meminta jajaran partai tidak iri. Sebab, pasang iklan di televisi, bioskop, koran, radio, dan media luar ruang memang memerlukan biaya tak sedikit. “Biar tak pusing sendiri, Anda sebaiknya tak usah tanya berapa uang yang saya keluarkan. Toh, Anda tak akan mampu menghitung,” seloroh Soetrisno setiap ada kader PAN yang bertanya soal program Fox.

Rizal Mallarangeng mengakui, sekitar 70-80 persen biaya pencitraan diri itu terserap ke biaya iklan televisi. Sebab, biaya satu menit iklan di media elektronik saat prime time bisa Rp 30 juta-Rp 45 juta. Padahal, dalam sehari, rata-rata 180 kali tayang. “Anda bisa hitung sendirilah,” katanya.

SB yang berlatar belakang pengusaha memang sedang bertaruh. Dia tak ingin suara PAN pada pemilu mendatang lebih rendah dibandingkan saat dipimpin Amien Rais. Karena itu, berbagai terobosan terus dilakukan. “Saya sudah kalah segala-galanya dari Pak Amien. Kesempatan saya mengalahkan Pak Amien cuma satu, yaitu merebut kursi DPR lebih banyak,” katanya. Saat ini PAN memiliki 53 kursi di DPR.

Pertaruhan itulah yang mendorong dia mau merogoh kocek pribadi tiada henti. Berapa pun dan kapan pun. “Yang saya lakukan baru jurus biasa-biasa saja. Ini belum termasuk jurus dewa mabuk,” ujarnya.

Lalu, dari mana saja sumber uang SB? Orang hanya mengenal dia sebagai juragan batik bermerek BL (Bachir Latifah) dari Pekalongan, Jateng. Dia memang lahir dan dibesarkan dari keluarga pengusaha batik. Tapi, berkat kerja keras dan kesungguhannya, dia kini telah menjadi pebisnis andal.

Lewat bendera Sabira Group yang bermarkas di gedung Landmark Jakarta, pria kelahiran 10 April 1957 itu merambah ke berbagai bidang usaha. Bisnis utamanya ialah mengeruk uang lewat pasar modal. Saham-saham blue chips selalu menjadi incarannya. Dia juga menanamkan uang ke berbagai perusahaan yang berprospek baik, seperti sektor migas, telekomunikasi, properti, dan perkebunan.

Konsep bisnis Soetrisno umumnya penyertaan modal ke perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek baik. Termasuk bermitra dengan pengusaha-pengusaha papan atas nasional. Dengan pola itu, pundi-pundi periuknya terus membubung.

“Kalau banyak orang kesulitan mencari uang, alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk terus mencari celah mengeluarkan uang,” ucap Soetrisno.

Dia membantu para kader PAN yang maju di ajang pilkada. Lewat zakat, dia membantu para duafa di seluruh negeri. Lewat SB Foundation, dia juga membantu pengembangan kewirausahaan dan beasiswa anak-anak Indonesia.

SB juga membantu permodalan koperasi simpan pinjam syariah di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Untuk kantor DPP PAN, dia telah menghibahkan gedung berlantai tujuh di Jakarta senilai Rp 20 miliar.(el)

Sumber: Jawapos, 26 Mei 2008

Read Full Post »

Oleh Jeffrie Geovanie *
Kompetisi dalam dunia politik pada hakikatnya merupakan kompetisi pencitraan, baik secara institusional maupun individual. Contoh, mengapa masyarakat Jawa Barat memilih pasangan Hade (Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf)? Jawaban utamanya, Hade berhasil membangun citra diri sebagai pemimpin baru yang mampu memberikan harapan di tengah kejenuhan dan kebosanan masyarakat terhadap para pemimpin lama yang hanya bisa berjanji tapi kurang pandai menepati.

Mengapa pasangan SBY-JK dipilih rakyat Indonesia pada 2004 silam? Karena pasangan ini berhasil membangun citra positif di mata publik.

Karena itu, rasanya sangat wajar jika sekarang ini sejumlah partai politik, baik secara kelembagaan maupun individual (tokoh-tokohnya), sudah berpacu mengupayakan pencitraan positif di mata khalayak. Maklum, kalau pemilihan umum (Pemilu) 2009 dijadwalkan April, waktu menuju pemilu dari sekarang kurang dari satu tahun.

Sudah waktunya bagi partai-partai untuk memasuki arena kompetisi yang sesungguhnya. Begitu pun bagi tokoh-tokohnya, terutama yang berambisi menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

Di antara tokoh-tokoh politik yang sudah berupaya membangun pencitraan itu, misalnya, mantan Panglima TNI, Jenderal (pur) Wiranto yang pada pemilu presiden 2004 silam kalah di babak penyisihan. Wiranto termasuk tokoh yang paling getol mengiklankan diri, baik di media cetak maupun elektronik. Tema utamanya, kegetiran masyarakat, terutama mereka yang miskin dan menganggur disebabkan sistem sosial politik yang kurang memihak.

Pesannya jelas, di samping menyindir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dianggap gagal menanggulangi kemiskinan dan pengangguran, Wiranto ingin membangun citra diri yang peduli terhadap nasib mereka.

Mengintip di belakang Wiranto, ada Prabowo Subianto, mantan komandan Jenderal Kopassus yang paling populer. Berbeda dengan Wiranto yang mendirikan partai politik baru sebagai alat perjuangan, Prabowo lebih memanfaatkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), organisasi profesi yang belum lama ditekuninya. Melalui HKTI, Prabowo ingin membangun citra diri sebagai tokoh yang sangat peduli kepada nasib rakyat, terutama petani.

Selain dua jenderal di atas, ada tokoh sipil yang karismanya tidak kalah dengan jenderal. Dia adalah Sultan Hamengku Buwono X. Sultan tidak mendirikan partai baru. Dia tetap jadi bagian dari Partai Golkar.

Langkah-langkah Sultan paling hati-hati. Tidak gegap gempita. Perlahan tapi relatif terukur. Langkah-langkah Sultan dalam membangun citra mengingatkan kita pada langkah-langkah SBY pada 2003. Yang membedakan SBY dengan Sultan, yang pertama mendirikan partai politik, sedangkan yang kedua tetap bertahan sebagai aktivis partai lama yang sudah mapan secara politik.

Tokoh sipil lain, ada Megawati Soekarnoputri. Megawati menjadi fenomena menarik karena ketua umum PDIP yang dulu terkenal jarang berkomentar -apalagi mengkritik- ini sekarang justru lebih banyak mengkritik pemerintah. Ungkapan-ungkapannya menarik seperti “tebar kerja bukan tebar pesona” dan “bagaikan penari poco-poco”.

Kedua ungkapan itu menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bukti bahwa Megawati masih mampu menyedot perhatian publik.

Tokoh sipil yang juga menarik adalah Soetrisno Bachir (SB) yang memasang iklan dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Dengan memasang ide iklan dari sajak Chairil Anwar, cukup unik dan inspiratif. Barangkali, aspek inilah yang membedakan, antara dirinya dan iklan politik tokoh-tokoh lain.

Cara SB beriklan, yang bertumpu pada upaya membangun fondasi citra diri sebagai negarawan, agak mirip dengan cara yang ditempuh Hillary Clinton dan Barack Obama, dua kandidat presiden AS dari Partai Demokrat yang hingga saat ini relatif sama kuat.

Selain banyak penantang, masih ada incumbent, pasangan SBY-JK yang kian serius melakukan langkah-langkah politik yang mengarah pada upaya mempertahankan jabatan hingga periode mendatang. Keduanya terlihat fokus pada upaya-upaya mengatasi problem yang dihadapi bangsa saat ini.

Akan sangat baik asalkan tidak terpancing oleh kritik-kritik yang dilontarkan lawan politik, terus konsisten dan bekerja keras menjalankan amanat dan kepercayaan rakyat yang telah dimandatkan kepada mereka.

Jika rakyat merasakan adanya perbaikan kehidupan, keamanan, dan kedamaian, tidak mustahil SBY-JK akan dipilih kembali untuk periode berikutnya.

Siapakah di antara tokoh-tokoh di atas yang akan dipercaya rakyat untuk menjadi presiden dan wakil presiden periode 2009-2014. Apakah Wiranto, Prabowo, Sultan HB X, Megawati, Soetrisno Bachir, atau tetap SBY-JK? Lihat tahun depan. Rakyatlah yang akan menentukan.
*. Jeffrie Geovanie, direktur eksekutif The Indonesia Institute, di Jakarta.

Sumber: Jawapos 6 Mei 2008

Read Full Post »