Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Selebritis’

Oleh: Indra J. Piliang (Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta)

Jakarta, Bagai panggung kesenian, para aktor dalam demokrasi terkini di Indonesia diisi oleh beragam karakter. Ada yang naik panggung, banyak yang turun. Era para pejabat, jenderal dan aktivis telah mendekati titik akhir. Para pengganti yang muncul berasal dari kalangan pengusaha dan artis. Tentu mereka pernah mengalami kehidupan susah sebagai anak-anak petani atau pedagang.

Keberhasilan Rano Karno sebagai wakil bupati Kabupaten Tangerang dan Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat membuat masyarakat berpikir: inilah era para artis dalam panggung politik dan pemerintahan. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa ini hanya fenomena lokal, belum tentu menjadi fenomena nasional. Dari rata-rata kepala daerah dan wakilnya, masih sedikit yang berprofesi sebagai artis yang berhasil terpilih. Marisa Haque gagal jadi wakil gubernur Banten, begitu pula Haji Komar sebagai bupati di Indramayu. Kegagalan itu menunjukkan bahwa popularitas keartisan seseorang belum bisa sepenuhnya menyebabkan logika awam memilihnya. Seandainya Doyok maju di Sidoarjo, tanah kelahirannya, juga belum tentu mampu memenangkan hati warga. Logika pulik tidak bisa dipaksa untuk mengeluarkan seseorang dari ruang kaca, lantas menunjuknya sebagai pemimpin. Terdapat banyak usaha lain untuk mewujudkan itu.

Sehingga, dengan sendirinya, kita perlu memilah-milah dunia artis yang bisa mendapatkan tempat di ranah politik dan pemerintahan. Dede Yusuf dan Rano Karno dikenal memainkan sosok pemuda yang riil. Dede tampil dalam sejumlah film lama yang bercerita tentang anak-anak muda zamannya. Ia terkenal dengan Jendela Rumah Kita di TVRI dan menjadi ikon obat sakit kepala. Begitupun Rano yang lebih realistik dengan peran sebagai si Doel. Peran-peran itu terasa dekat dalam keseharian masyarakat. Yang lebih penting lagi, sosok keduanya tidak kontroversial. Mereka jarang masuk ke dunia infotainment untuk isu-isu murahan, misalnya dalam masalah keluarga. Kalaupun masuk, sifatnya lebih kepada aksi-aksi sosial. Seorang Marisa barangkali ditolak lebih karena sikapnya yang arogan, lalu belakangan menonjolkan sosok intelektualitasnya sebagai kandidat doktor. Haji Komar barangkali lebih dilihat masyarakat sebagai penghibur, bukan artis yang memiliki karakter.

Popularitas Politik bukan lagi sekadar kemampuan menjalankan pemerintahan, melainkan telah merambah kepada kehandalan dalam memberikan harapan bagi perbaikan. Tema-tema perubahan kian digandrungi. Kalau seorang sosok pimpinan terlihat begitu kaku, birokratis, lamban dan tidak enak dilihat, maka benteng penghalang sedang disusun di depannya untuk memasuki kantor-kantor pemerintahan. Muka yang semakin berkeriput juga menjadi faktor penghindar dari publik. Kegairahan dan keuletan justru menjadi maghnet yang menawan.

Mengapa hal itu terjadi? Perubahan dari sisi demografis. Para pemilih memasuki usia muda. Kalangan muda ini tidak lagi memiliki idealita atas kehidupan bernegara. Mereka bukan korban dari indoktrinasi zaman Orde Baru tentang nilai-nilai P-4. Generasi yang tertatih mengeja Pancasila, apalagi butir-butirnya. Generasi yang dihidupi oleh kecepatan kemajuan teknologi informasi. Artis dan selebritis mengisi hampir semua ruang teknologi informasi itu. Sebagai duta olahraga, duta departemen tertentu, duta gosok gigi, sebagai master of ceremony kegiatan politik, atau hanya sebagai pengisi acara-acara kepartaian. Artis masih dianggap sebagai ornamen penting dalam kegiatan politik dan pemerintahan. Tetapi, seiring dengan kesadaran politik yang makin meninggi, semakin banyak pula artis memutuskan terjun ke dunia politik praktis.

Dengan sistem politik yang menyamakan suara seorang tokoh dengan masyarakat biasa, kehadiran artis dengan popularitas tinggi tentu menarik minat publik. Langkah awal tidak diperlukan, yakni pengenalan oleh masyarakat pemilih. Justru kalangan intelektual yang kian kesulitan, karena beredar di kalangan terbatas, terutama dalam tumpukan buku. Pemangku gelar akademik tertinggi belum tentu terpilih dalam pilkada dan pilpres. Mengapa? Karena yang dipilih bukan seorang rektor. Rulling Elite

Perpindahan posisi artis yang semula hanya pengisi dunia hiburan ke ranah kekuasaan, telah menempatkan artis sebagai rulling elite baru. Bahkan sumber kepemimpinan dari kalangan militer dan birokrat lama juga mereka kalahkan. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana kualitas kepemimpinan mereka. Apakah mereka mampu dengan cepat mempelajari seluk-beluk pemerintahan dan dengan segera mengambil kebijakan berdasarkan lautan data, analisa dan rekomendasi di meja mereka? Atau mereka lantas sibuk menjadi aktor-aktor teatrikal yang enak dilihat ketika di atas pentas, tetapi ketika pulang justru terbayang uang beli karcis yang melayang? Selama ini, di hadapan kamera, artis sangat tergantung kepada sutradara. Maka ketika berpindah ke ruang kekuasaan, sutradara itu dimainkan oleh partai politik. Partai politik yang sudah mengambil keuntungan maksimal dari kalangan artis ini selayaknya mempersiapkan diri dengan baik sebagai aktor di belakang panggung. Perhatian harus benar-benar diberikan kepada kemampuan artis yang bersangkutan dalam menjalankan roda pemerintahan. Menurut saya, menjadi aneh ketika Soetrisno Bachir dalam perayaan kemenangan pasangan Hade lantas memberikan pekerjaan rumah kepada Dede Yusuf untuk memenangkan PAN di Jabar. Yang selayaknya dilakukan adalah PAN menyiapkan diri untuk mengerjakan apapun yang dibutuhkan Dede Yusuf.

Gaya selebritis dalam menjalankan kekuasaan justru akan mengundang petaka. Lihat saja bagaimana Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono yang dikatakan Megawati hanya mampu menebar pesona. Masyarakat membutuhkan para pesolek di dunia maya atau layar lebar, tetapi segara meninggalkannya ketika pesolek itu muncul dalam sosok pemimpin. Inilah paradoks yang dimunculkan antara realitas politik dengan hiper realitas kalangan selebritis. Artis yang menjadi kepala daerah atau presiden harus bersiap mencetak box office baru lewat prestasi monumental. Kalau indeks pembangunan manusia di Jabar lebih baik pada tahun ketiga, sebagaimana janji pasangan Hade, maka Dede Yusuf berhak dicatat dalam box office itu. Namun, apabila pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan di Jabar makin merosot dibandingkan dengan awal mereka memerintah, julukan sebagai artis gagal pantas diberikan. Begitu juga bagi Rano Karno, apabila mampu menghijaukan Kabupaten Tangerang, sebagaimana janji kepeduliannya kepada aspek lingkungan hidup, maka ia berhak menanggalkan julukan sebagai si Doel Anak Sekolahan, digantikan dengan si Doel Jadi Pemimpin.

Non Formal Para pemimpin formal sekarang terlalu sulit memberikan senyum kepada masyarakat. Dede dan Rano tentu menyadari itu. Siapapun anggota masyarakat yang datang, tentu akan berpikir untuk segera bersalaman dan foto bareng dengan keduanya. Kalaupun ada usulan, keluhan atau kritikan, itu menjadi tempelan saja. Nilai-nilai baru dalam komunikasi inilah yang tidak diperoleh ketika yang memimpin adalah seorang jenderal atau pejabat karier.

Kehadiran artis di panggung kekuasaan adalah pemecah batu kebekuan birokrasi. Pemerintahan harus membuka diri bagi masyarakat. Kalau tidak, sebagaimana film-film yang tidak laku di pasaran, pemerintahan akan ditinggalkan karena “penonton kecewa”. Sehingga situasi paradoks bisa dimainkan sekaligus, yakni sebagai pemimpin formal melakoni pola kepemimpinan non formal. Ketertutupan administrasi pemerintahan selama ini harus dibuka dengan penanaman nilai-nilai keartisan itu. Bagaimanapun, pemerintahan adalah ornamen yang bisa menggerakkan masyarakat, apabila mampu memberikan tontonan yang menggugah perasaan. Pemerintahan juga mampu memerangkap masyarakat terjebak dalam kecengengan, apabila yang diurai hanya air-mata kekuasaan dan gincu merah pemimpin-pemimpinnya.

Tidak boleh lagi ada jarak yang begitu jauh antara rakyat jelata dengan pemimpin formal di Jawa Barat, sebagaimana juga di Tangerang. Pola relasi sosial yang bergaya menak, dengan pelakon dari kelompok bangsawan lama di ranah Sunda, selayaknya mula dirontokkan dengan kehadiran generasi kepemimpinan baru yang lebih fleksibel dan dinamis. Selebrasi kalangan selebritis di panggung kepemimpinan formal adalah bagaimana menjadikan kekuasaan itu tidak lagi terlihat jauh. Dalam konteks ini selebritis akan bersuara banyak, ketimbang ia hadir sebagai ornamen kekuasaan dan boneka kalangan lain di belakang layar. Kalau tidak, masyarakat dengan mudah bisa mencampakkan para pemimpin barunya ini, teronggok di pinggiran tanpa penonton, ketika menjadikan kekuasaan itu hanya sebagai ajang memupuk kedigdayaan personal.

sumber: indrapiliang.com

Read Full Post »

TAMPANG pria yang tampan rupawan tak otomatis membuat seorang wanita langsung bertekuk lutut. Buktinya, Sandra Dewi mengaku tak begitu tertarik dengan sejumlah pria-pria yang berwajah ganteng, tak terkecuali Delon, Juara Dua Kontes Indonesian Idol 2004.

Konon kabarnya, Delon pernah menyatakan bersedia menjadi kekasih pemain film Quickie Express itu. Selain Delon, ada pula nama aktor muda Didi Riyadi yang konon pernah pula jatuh hati pada pesinetron berdarah Bangka itu. Namun Delon maupun Didi Riyadi rupanya ditolak secara halus oleh Sandra Dewi. Padahal kurang apa Delon? Tampangnya ganteng, perangainya sopan dan ramah terhadap siapa saja.

Apalagi pelantun Indah Pada Waktunya itu notabene pemuda yang berasal satu kampung halaman dengan Sandra Dewi. Tapi apa mau dikata, tampaknya dua pria ini tidak masuk dalam kategori lelaki idaman Sandra Dewi.

Meskipun Didi Riyadi maupun Delon adalah sosok yang bisa dibilang merupakan salah satu idola kaum hawa. Lantas seperti apa sebenarnya laki-laki yang diinginkan oleh putri pasangan Andreas Gunawan Basri dan Chatarina Erliani ini?

“Aku inginkan dia (calon suamiku) adalah pengusaha, atau dari kalangan biasa. Aku nggak mendambakan artis yang akan menjadi pendamping hidupku kelak,” ujar Sandra Dewi.

Apa pertimbangan pemilik nama lengkap Monica Nicholle Sandra Dewi Gunawan Basri ini mengharapkan pria dari kalangan biasa? Rupanya Sandra merasa tidak cukup siap mental bila bersuami artis yang dipuja dan diidolakan banyak penggemar dari kalangan kaum hawa. (Persda Network/sis)

Read Full Post »

Pebriansyah Ariefana – detikhot

Jakarta Walau banyak pernikahan selebriti berakhir di pengadilan agama, tak sedikit juga yang berani menikah. Bagaimana dengan Luna Maya?

“Aku mau keliling dunia dulu deh,” cetus bintang ‘Pesan dari Surga’ itu saat ditemui di resepsi pernikahan Ronal ‘Extravaganza’ di Hotel Shangri-La, Jakarta Selatan, Minggu (25/5/2008 ) malam.

Sahabatnya di variety show sebuah televisi swasta itu dinilai Luna memang sudah saatnya menikah. Karena sudah pacaran lima tahun. Sebentar lagi usia Luna 25 tahun, namun ia enggan buru-buru mengikat janji sehidup semati.
Aktris kelahiran 26 Agustus 1983 itu juga mengaku belum berpikir untuk naik pelaminan. “Aku santai aja. Kan belum ada yang lima tahun,” candanya mengakhiri pembicaraan.(dit/dit)

Sumber: detikhot.com, 26 Mei 2008

Read Full Post »